Hijrah Usai Bangkrut Berulang Kali, Kini Sukses Bisnis Kedai Kopi
Mahmuda attar hussein
Rabu, 08 September 2021 - 11:09 WIB
Ilustrasi bisnis kedai kopi. Foto: Langit7/Istock
Indonesia merupakan negara dengan penghasil kopi terbesar ke-4 di dunia. Peminat kopi juga tidak mengenal usia. Milenial hingga orang dewasa. Tidak heran penikmat kopi di tanah air terus meningkat, terlebih didukung dengan menjamurnya kedai kopi.
Peluag itu coba dimanfaatkan, muslim asal Tulungagung, Gautama Sastrawaskita. Melihat ada peluang yang baik, dan margin yang cukup besar dalam usaha perkopian, membuatnya membuka kedai Kopi Kosim di Tulungagung.
“Apalagi bahan baku kopi tidak mudah rusak, karena bisa bertahan hingga dua minggu. Berbeda dengan sayuran atau buah yang biasanya maksimal bertahan hanya 3-4 hari setelah itu mudah rusak atau busuk,” jelasnya dikanal Youtube PecahTelur.
Baca juga:Kemendag Dorong Promosikan Produk Indonesia dengan Gaya Storytelling
Tama, sapaan akrabnya, membangun Kedai Kosim dengan modal nol, melalui business plan. Artinya ia selalu menuangkan ide dan rencana bisnisnya dalam sebuah proposal yang diajukannya kepada orang-orang yang tertarik untuk berinvestasi modal di dunia perkopian.
Tepatnya pada 2018 lalu, ia bertemu dengan investor yang tertarik untuk mengembangkan dunia perkopian di Tulungagung. Dari situ ia mulai mempresentasikan soal bidang usaha kopi dan mampu mendapatkan investasi modal, hingga mampu mengembangkan Kedai Kosim seperti sekarang ini.
“Untuk bisa seperti itu, pengusaha perlu menjaga continous branding, yang artinya perlu menjaga nama baik dalam jangka panjang agar dapat dipercaya oleh rekan bisnis. Sebab, kepercayaan itu adalah modal utama seorang pengusaha,” jelasnya.
Peluag itu coba dimanfaatkan, muslim asal Tulungagung, Gautama Sastrawaskita. Melihat ada peluang yang baik, dan margin yang cukup besar dalam usaha perkopian, membuatnya membuka kedai Kopi Kosim di Tulungagung.
“Apalagi bahan baku kopi tidak mudah rusak, karena bisa bertahan hingga dua minggu. Berbeda dengan sayuran atau buah yang biasanya maksimal bertahan hanya 3-4 hari setelah itu mudah rusak atau busuk,” jelasnya dikanal Youtube PecahTelur.
Baca juga:Kemendag Dorong Promosikan Produk Indonesia dengan Gaya Storytelling
Tama, sapaan akrabnya, membangun Kedai Kosim dengan modal nol, melalui business plan. Artinya ia selalu menuangkan ide dan rencana bisnisnya dalam sebuah proposal yang diajukannya kepada orang-orang yang tertarik untuk berinvestasi modal di dunia perkopian.
Tepatnya pada 2018 lalu, ia bertemu dengan investor yang tertarik untuk mengembangkan dunia perkopian di Tulungagung. Dari situ ia mulai mempresentasikan soal bidang usaha kopi dan mampu mendapatkan investasi modal, hingga mampu mengembangkan Kedai Kosim seperti sekarang ini.
“Untuk bisa seperti itu, pengusaha perlu menjaga continous branding, yang artinya perlu menjaga nama baik dalam jangka panjang agar dapat dipercaya oleh rekan bisnis. Sebab, kepercayaan itu adalah modal utama seorang pengusaha,” jelasnya.