Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home wirausaha syariah detail berita

Hijrah Usai Bangkrut Berulang Kali, Kini Sukses Bisnis Kedai Kopi

mahmuda attar hussein Rabu, 08 September 2021 - 11:09 WIB
Hijrah Usai Bangkrut Berulang Kali, Kini Sukses Bisnis Kedai Kopi
Ilustrasi bisnis kedai kopi. Foto: Langit7/Istock
LANGIT7.ID, Tulungagung - Indonesia merupakan negara dengan penghasil kopi terbesar ke-4 di dunia. Peminat kopi juga tidak mengenal usia. Milenial hingga orang dewasa. Tidak heran penikmat kopi di tanah air terus meningkat, terlebih didukung dengan menjamurnya kedai kopi.

Peluag itu coba dimanfaatkan, muslim asal Tulungagung, Gautama Sastrawaskita. Melihat ada peluang yang baik, dan margin yang cukup besar dalam usaha perkopian, membuatnya membuka kedai Kopi Kosim di Tulungagung.

“Apalagi bahan baku kopi tidak mudah rusak, karena bisa bertahan hingga dua minggu. Berbeda dengan sayuran atau buah yang biasanya maksimal bertahan hanya 3-4 hari setelah itu mudah rusak atau busuk,” jelasnya dikanal Youtube PecahTelur.

Baca juga: Kemendag Dorong Promosikan Produk Indonesia dengan Gaya Storytelling

Tama, sapaan akrabnya, membangun Kedai Kosim dengan modal nol, melalui business plan. Artinya ia selalu menuangkan ide dan rencana bisnisnya dalam sebuah proposal yang diajukannya kepada orang-orang yang tertarik untuk berinvestasi modal di dunia perkopian.

Tepatnya pada 2018 lalu, ia bertemu dengan investor yang tertarik untuk mengembangkan dunia perkopian di Tulungagung. Dari situ ia mulai mempresentasikan soal bidang usaha kopi dan mampu mendapatkan investasi modal, hingga mampu mengembangkan Kedai Kosim seperti sekarang ini.

“Untuk bisa seperti itu, pengusaha perlu menjaga continous branding, yang artinya perlu menjaga nama baik dalam jangka panjang agar dapat dipercaya oleh rekan bisnis. Sebab, kepercayaan itu adalah modal utama seorang pengusaha,” jelasnya.

Menurutnya, kopi dipasaran memiliki tiga grade, yakni commercial grade, speciality grade, dan cup of exellence. Kedai Kosim, ini berfokus pada speciality grade, dengan mengutamakan kualitas kopi terbaik dan menjaga kesegaran kopi itu sendiri.

Tama mengaku, Kedai Kosim tidak pernah menyetok kopi lebih dari dua minggu. Hal itu dilakukan demi menjaga kualitas kopi agar tetap berada di titik kesegaran terbaik.

“Biasanya, lebih dari dua minggu kita akan jadikan pajangan dinding, atau media edukasi. Kebetulan istri juga suka dengan kerajinan tangan, sehingga biasanya dia olah jadi gelang atau kalung lalu kita jual dengan nilai yang berbeda,” ujarnya.

Saat pandemi Covid-19 mulai merebak, sempat mengakibatkan Kedai Kosim mengalami penurunan penjualan hingga 80 persen. Untuk itu, Tama mulai melakukan peralihan dari produk utamanya kopi seduh, menjadi kopi yang siap saji.

Baginya, pandemi ibarat badai yang menghantam kapalnya. Misinya saat itu adalah membuat kapal yang ia naikkan tidak karam akibat hantaman badai pandemi.

“Kapal itu bisa karam karena air yang ada di dalamnya, tapi justru kapal tidak akan karam karena air yang ada disekelilingnya. Tugas kita tentu menjaga kapal ini tetap stabil agar tidak karam. Jadi banyakin seduh kurangi sedih,” ujarnya.

Untuk bisa bersaing di pasaran, Tama mengajak seluruh pengusaha agar bisa terus berinovasi dan tetap mencari peluang sekali pun dalam kondisi pandemi.

Untuk itu, Kedai Kosim yang tadinya menyasar outlet besar untuk menjalin kerja sama, kini mereka melahirkan Kosim Express, yang lebih menyasar kepada outlet kecil. Dengan modal Rp15 juta untuk membuka kedai kopi kecil, ia mengaku bisa balik modal dalam waktu tiga bulan dan terus mempertahankan usaha yang dijalankannya ini.

“Kosim Express adalah strategi kami untuk menghadapi pandemi. Sebab, tadinya, orang datang untuk nongkrong sekarang mereka harus mengikuti kebijakan yang ada. Untuk menjawab itu, maka kita hadirkan bisnis dengan modal yang lebih terjangkau,” jelasnya.

Tinggalkan Zona Nyaman dan Dunia Ribawi

Muslim dua anak ini mengaku pernah berada di zona nyaman, ketika masih bekerja sebagai Head of Marketing untuk wilayah Jabodetebek, di salah satu perguruan tinggi Internasional di Bekasi. Baginya itu adalah posisi tertinggi yang ada di perguruan tinggi tersebut.

Gaji dan fasilitasnya pun tidak tanggung-tanggung, Tama mendapatkan penghasilan dalam bentuk dolar, supir pribadi, bahkan rumah dinas. Namun, ia merasa di posisinya yang terbilang serba mewah itu, belum bisa mengeluarkan potensi terbaik yang ada di dalam dirinya.

“Saya mentok di posisi Head of Marketing itu, hingga akhirnya saya coba untuk bakar kapal, artinya mengundurkan diri dari pekerjaan saya. Setelah itu saya mulai coba merintis usaha dan berfokus penuh di dalamnya,” jelasnya.

Baca juga: Pelaku UMKM Harus Tahu, Ini Teknik Closing Transaksi di Marketplace

Keputusannya itu pun sempat ditentang oleh keluarga, karena memang posisinya saat itu menjadi idaman bagi banyak orang yang melihatnya. Namun, ia tetap kukuh akan keputusannya untuk mundur karena ketertarikannya pada dunia usaha.

Selain itu, ia juga mengaku pernah berada di titik terendahnya karena memiliki utang hingga miliyaran rupiah. Hal itu terjadi karena Tama selalu berusaha untuk memiliki usaha dengan modal nol, yang artinya investasi modal didapatkannya dari pihak lain.

“Saya terjerat utang bank untuk usaha saya pada awalnya, yang artinya pun saya masuk ke dalam dunia ribawi. Alhamdulillah semua usaha yang saya rintis melalui utang dan riba ini, semuanya bangkrut. Tapi saya tetap bersyukur karena saya yakin ini menjadi salah satu cara Allah untuk ‘mencuci’ saya agar terlepas dari jeratan riba,” kenangnya.

Ketika memulainya kembali di tanah kelahirannya, Tulungagung, ia mencoba untuk tidak kembali masuk terjerumus ke dalam dunia ribawi. Hingga business plan yang dibuatnya pun berlandaskan dari akad syariah mudharabah, yakni bagi hasil.

Dari situ, ia menemukan titik baliknya, dan mendapatkan pendanaan untuk usahanya dari investor yang memberikan dana sebanyak Rp28 juta. Baginya, dana dari kesepakatan mudharabah itu yang menjadikan Kedai Kosimnya bisa berkembang hingga saat ini, yang telah memiliki nilai aset ratusan juta rupiah.

Awal Merintis Usaha

Muslim kelahiran Tulungagung 37 tahun silam ini, merupakan lulusan bisnis perhotelan, yang membuatnya paham betul soal dunia food and baverage (F&B) production, F&B service. Selain itu, ia memnag mengaku jatuh cinta pada bidang kuliner, secara spesifik di industri perkopian.

Karena kecintaannya tersebut, bahkan ia sempat mendirikan usaha kopi di Bekasi dari nol. Terbilang berani memang karena kala itu, Tama memakai benchmarking starbucks, yang artinya produk dan mesin yang ada di Starbucks juga tersedia di kedai kopinya saat itu.

Namun, karena kekeliruan strategi yang disasarnya membuat coffeshop itu hanya bertahan selama satu tahun. Sebab, dengan menyaingi produk dari Starbucks tapi menyasar kepada konsumen kelas menengah ke bawah, cukup terasa sulit baginya untuk bisa mengembangkan usaha tersebut di tengah persaingan dunia perkopian yang termasuk di pasar berdarah.

“Setelah itu, saya putuskan untuk pulang ke Tulungagung dan setelah diskusi sama istri dia juga menyarankan untuk buka kedai kopi di Tulungagung. Alasannya, karena memang di Tulungagung sendiri coffeeshop sedang menjamur dengan skala tradisional,” ujarnya.

Melihat peluang usaha perkopian yang tidak lekang oleh waktu, ia pun membulatkan tekadnya untuk kembali membuka kedai kopi yang dinamakan Kedai Kosim, pada 2015 silam. Nama Kosim sendiri secara harfiah diartikannya sebagai Kopi Siang Malam.

Latar belakang kecintaannya terhadap dunia enterpreuneur membuatnya paham betul dalam menjalankan sebuah usaha, terutama kedai kopi miliknya. Baginya, ramai dan sepi sebuah usaha merupakan sebuah pilihan.

“Jadi pilihannya, buka langsung ramai, atau buka langsung sepi. Keduanya menular, kalau buka langsung ramai, InsyaAllah memberikan energi positif kepada orang di sekitar tempat usaha,” ujarnya.

Pada saat soft opening, Tama mengundang beberapa komunitas untuk datang ke Kedai Kosim. Hal ini menjadi bagian dari strateginya.

Diakuinya, soft opening Kedai Kosim saat itu dilakukan dengan banyak rangkaian. Adapun saat perdana buka, ia mengundang komunitas yang berasal dari orang terdekatnya, yaitu keluarga. Dilanjutkan dengan undangan komunitas lainnya seperti para pengusaha, pecinta kopi, dan seterusnya.

“Jadi dalam sebulan penuh itu kedai kita ramai, akhirnya energi positif untuk ramai dihari berikutnya pun terjadi. Yakni, kedai saya ramai akan pengunjung tanpa diundang,” jelasnya.

Baca juga: Berawal dari Hobi, Muslim Asal Boyolali Kini Bisnis Sekolah Murai Batu

Kini, muslim yang mengaku aktif dalam pergerakan kopi di tanah air ini, turut bergabung di Asosiasi Kopi Spesialiti Indonesia (AKSI). Hal itu menjadikan kedai kopinya sebagai satu-satunya kedai di Tulungagung yang tergabung ke dalam asosiasi kopi nasional.

Berangkat dari situ, ia membangun komunitas bersama pengusaha kopi di Tulungagung, untuk memberikan edukasi kepada masyarakat seputar perkopian. “Karena waktu itu yang booming di Tulungagung adalah kopi tradisional. Sehingga cukup sulit usaha kami para pelaku usaha kopi mengenalkan kopi baru kepada masyarakat sekitar,” katanya.

Sebagai pembina di komunitasnya, pada 2015 ia berupaya mengenalkan jenis kopi yang ada di sekitar Tulungagung. Salah satunya dengan membagikan jenis kopi yang beragam secara gratis kepada perusahaan, hingga sekolahan.

Baginya, tahun 2015 merupakan awal perjalanan dunia perkopian di Tulungagung dengan memperkenalkan berbagai jenis kopi kepada masyarakat. Tidak lain, harapannya agar banyak masyarakat yang teredukasi dalam hal itu.

“Pada 2018, terbukti kita berada di puncak kejayaan. Tahun itu, kita ikut lomba seduh se-Jawa Timur dan Alhamdulillah tim kita berhasil meraih juara pertama. Di tahun yang sama pula kita diundang untuk melayani tamu diplomasi negara,” kenangnya.

(zul)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)