LANGIT7.ID- Di tengah teriknya padang pasir Makkah, di masa ketika Islam masih berjuang untuk tegak, seorang lelaki tua menggenggam tekad yang jarang dimiliki banyak orang. Namanya Dhamrah bin Jundub. Usianya telah senja, tubuhnya renta, dan penyakit melemahkan setiap sendi. Namun, di balik fisik yang lemah, jiwanya menyala oleh iman.
Dhamrah hidup pada periode kritis: tekanan Quraisy terhadap kaum Muslimin memuncak, hingga Allah memerintahkan hijrah ke Madinah. Perintah ini bukan sekadar perpindahan geografis, tapi juga simbol pembebasan dari belenggu tirani menuju masyarakat yang merdeka. Namun, hijrah bukan perkara mudah. Jalan yang terbentang dari Makkah ke Madinah sejauh ±400 km, melintasi padang pasir tanpa belas kasihan, menjadi ujian keimanan.
Bagi para pemuda sehat, hijrah pun penuh risiko. Apalagi bagi seorang tua sakit seperti Dhamrah. Namun, ia mendengar kabar: siapa yang mampu hijrah tetapi enggan, maka ia tergolong dalam golongan yang “menganiaya diri sendiri”. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa’ 97:
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).’ Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’…”
Baca juga: Cerita Perjalanan Hijrah Afgan, Berawal dari Guncangan Psikis Jelang Usia 30 Tahun Ayat ini menusuk hati Dhamrah. Ia berkata kepada keluarganya: “Keluarkan aku dari negeri ini. Aku tidak ingin mati di Makkah setelah mendengar seruan hijrah.” (Al-Wahidi, Asbabun Nuzul, hlm. 114). Ucapannya menggetarkan, karena ia sadar maut menunggu. Namun, niatnya tak tergoyahkan.
Lelaki tua ini dipapah, mungkin dengan tandu sederhana. Nafasnya tersengal, tubuhnya digerogoti sakit. Tapi setiap langkah adalah bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam perjalanan, sebelum Madinah terlihat, ajal menjemput. Dhamrah bin Jundub wafat di tengah jalan, jauh dari kota tujuan, namun dekat dengan ridha Tuhan.
Peristiwa ini mengguncang nurani para sahabat. Apakah amalnya sia-sia? Lalu turunlah firman Allah yang mengabadikan namanya dalam makna:
“Barang siapa keluar dari rumahnya untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.” (QS. An-Nisa: 100).
Ibnu Katsir menulis dalam tafsirnya: “Ayat ini menjadi penghibur bagi siapa pun yang terhalang mencapai tujuan karena sebab di luar kemampuannya. Ini berlaku umum, baik untuk hijrah maupun amal kebaikan lainnya.” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, jilid 2, hlm. 413).
Baca juga: Agar Nggak Salah Paham, Muharram Bukan Bulan Hijrah Nabi Muhammad SAW Riwayat Bukhari menguatkan: ayat ini turun berkenaan dengan Dhamrah. Meski langkahnya terhenti di tengah jalan, Allah mencatatnya sebagai muhajir sejati. (HR. Bukhari, Kitab Tafsir, bab An-Nisa).
Dalam karyanya Tafsir al-Mishbah, Quraish Shihab menafsirkan pesan besar dari kisah ini: “Perjalanan fisik memang terhenti, tapi perjalanan niat mengantarkannya pada derajat yang tinggi.” (Quraish Shihab, jilid 2, hlm. 537). Ia menekankan, Islam memuliakan niat yang tulus, bahkan ketika keterbatasan fisik memutus langkah.
Dhamrah bin Jundub menjadi simbol universal: tentang keberanian melawan keterbatasan, tentang kekuatan niat yang mengalahkan tubuh lemah. Kisah ini bukan sekadar romantisme sejarah, tapi pesan lintas zaman. Bahwa di hadapan Allah, bukan sejauh mana kaki melangkah yang dinilai, melainkan seberapa jauh hati bertekad.
Di era modern, pesan ini tetap relevan. Banyak orang yang merasa tak mampu melakukan amal besar karena keterbatasan fisik, ekonomi, atau kesempatan. Namun, kisah Dhamrah menegaskan: setiap langkah kecil menuju kebaikan dihitung, bahkan ketika napas terakhir mengakhiri perjalanan itu.
Hijrah Dhamrah mungkin tidak sampai Madinah, tetapi ia sampai pada tujuan yang sejati: ridha Allah.
Baca juga: Abdul Mu’ti, Tiga Hal Pelajaran dari Hijrah Nabi dalam Membangun Peradaban(mif)