LANGIT7.ID, Jakarta - Kementerian Perdagangan melalui Indonesian
Trade Promotion Center (ITPC) Sydney berkolaborasi dengan
University Technology of Sydney (UTS) mempromosikan produk Indonesia menggunakan konsep gaya bercerita (storytelling) dalam program “Indonesia Design Studio."
Indonesia Design Studio sendiri merupakan program untuk memperkenalkan hubungan ekonomi dan bisnis Indonesia-Australia. Program tersebut sekaligus menjadi mata kuliah di UTS yang telah berjalan sejak penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi dan Wakil Rektor UTS pada 15 Juni 2021 lalu.
“Peluang kolaborasi Indonesia dengan Australia semakin terbuka lebar, didukung dengan implementasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang telah membuka kesempatan kedua negara dalam meningkatkan hubungan ekonomi. Apalagi Indonesia dan Australia merupakan negara bertetangga yang saling membutuhkan,” ujar Direktur Perundingan Bilateral Ni Made Ayu Marthini seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa (06/09).
Baca juga: Dukung UMKM, Kemendag Geber Kampanye Bangga Buatan IndonesiaDalam program tersebut, mahasiswa UTS diwajibkan untuk melakukan program magang di kantor ITPC Sydney. Dengan mempromosikan produk Indonesia melalui penulisan dengan gaya bercerita, yang menjadi salah satu tugas wajibnya.
Untuk mendukung program tersebut, ITPC Sydney menggandeng jurnalis senior
Tempo English News Magazine dan kontributor aktif di festival
Ubud Writers and Readers untuk memberikan lokakarya penulisan kepada para mahasiswa. Selain itu, mahasiswa UTS juga diminta untuk memberikan masukan terkait galeri produk Indonesia di kantor ITPC Sydney.
Adapun, produk Indonesia yang diperkenalkan juga sejalan dengan visi-misi sebagian besar penduduk Australia yang sifatnya berkelanjutan. Sehingga produk Indonesia diharapkan menjadi lebih menarik dan menyentuh emosi, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Australia.
Sementara itu, jurnalis senior Tempo English News Magazine, Debra Yatim meyakini, promosi produk Indonesia yang dilakukan dengan gaya bercerita akan lebih menarik perhatian masyarakat.
“Promosi produk dengan gaya bercerita akan membuat orang jauh lebih tertarik dengan produk tersebut, dibandingkan dengan hanya menulis fakta dan informasi produk,” jelasnya.
Lebih lanjut,
National President of Australia Indonesia Business Council (AIBC), Phil Turtle mengatakan, Australia sudah seharusnya melakukan banyak hubungan bisnis dengan Indonesia. Sebab, selain jarak yang sangat dekat, hubungan perdagangan Indonesia-Australia juga sudah terjalin sejak dulu.
"Yaitu sejak pedagang Makassar membawa teripang ke pesisir barat benua Australia,” jelas Phil.
Baca juga: Kemendag Blokir Jasa Cetak Kartu Vaksin di InternetDi lain pihak, Pijak Bumi sebagai UKM asal Bandung yang terlibat dalam program tersebut, juga mendukung kerja sama ekonomi bisnis Indonesia-Australia. Di mana produk sepatu buatan Pijak Bumi hampir 90 persen diproduksi dari bahan alami, sehingga lebih ramah lingkungan dan dapat didaur ulang.
"Kami tegaskan bahwa seluruh produk Pijak Bumi merupakan bagian dari produk yang berkelanjutan. Pijak Bumi juga telah berkolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan hidup, yaitu Katingan Mentaya dan Hutan itu Indonesia untuk program
Carbon Negative,” ujar CEO Pijak Bumi, Rowland Asfales.
Sebagai informasi, berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai total perdagangan Indonesia-Australia pada Januari-Juli 2021 tercatat sebesar USD6,82 miliar. Ekspor Indonesia ke Australia periode Januari-Juli 2021 tercatat sebesar USD1,85 miliar.
Sedangkan, impor Indonesia dari Australia pada periode yang sama tercatat sebesar USD 1,80 miliar. Sementara itu, pada 2020, nilai total perdagangan Indonesia-Australia tercatat sebesar USD4,96 miliar.
(zul)