Rupiah Kembali Menguat, Melesat 114,5 Poin di Tengah Sentimen Domestik dan Global
Nabil
Selasa, 20 Agustus 2024 - 15:49 WIB
Rupiah Kembali Menguat, Melesat 114,5 Poin di Tengah Sentimen Domestik dan Global
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Mata uang rupiah mencatat penguatan signifikan pada perdagangan Selasa (20/8/2024), memberikan sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, melaporkan bahwa rupiah ditutup menguat tajam 114,5 poin ke level Rp15.435,5 dari penutupan sebelumnya di Rp15.550, bahkan sempat menyentuh penguatan 130 poin.
Penguatan ini terjadi menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar Selasa dan Rabu ini. Pasar menanti dengan antusias keputusan BI mengenai suku bunga acuan atau BI Rate untuk periode Agustus 2024. BI telah menaikkan suku bunga sebesar 275 bps dari 3,5% pada Agustus 2022 menjadi 6,25% saat ini. Pemangkasan suku bunga diharapkan bisa mendongkrak kredit dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ibrahim Assuaibi memprediksi, "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp15.350 - Rp15.450," ujar dia dalam keterangan resmi, Selasa (20/8/2024).
Penguatan rupiah ini menjadi kabar baik di tengah narasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih bertahan di level 5% selama kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Meski belum mencapai target 6%, angka ini dianggap sebagai prestasi mengingat banyak negara lain mengalami perlambatan ekonomi.
Dalam Pidato Kenegaraannya, Presiden Jokowi menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi 5% merupakan hal yang patut disyukuri. Ia menegaskan bahwa perekonomian Indonesia pada pemerintahannya bukan didesain untuk tumbuh di kisaran 6%, melainkan untuk menahan agar pertumbuhan tidak turun lebih lanjut, sebagaimana tren penurunan pertumbuhan di pengujung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Sementara itu, di kancah global, beberapa perkembangan turut mempengaruhi sentimen pasar. Konflik Israel-Hamas kembali memanas, dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menerima "proposal penghubung" dari Washington untuk mengatasi perselisihan yang menghambat kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Namun, dengan Hamas mengklaim bertanggung jawab atas ledakan di Tel Aviv pada Minggu malam, dan serangan militer Israel yang menewaskan sedikitnya 30 warga Palestina di Jalur Gaza pada Senin, kekhawatiran akan perang yang lebih luas masih ada.
Di sisi lain, pasar finansial global tengah menanti sinyal dari Federal Reserve AS terkait rencana suku bunga. Mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun 2024, satu kali lebih banyak dari perkiraan sebelumnya. Anggota Fed Mary Daly dan Austan Goolsbee mengisyaratkan kemungkinan pelonggaran pada September. Investor juga menantikan pidato Ketua Fed Jerome Powell di Jackson Hole pada hari Jumat.
Penguatan ini terjadi menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar Selasa dan Rabu ini. Pasar menanti dengan antusias keputusan BI mengenai suku bunga acuan atau BI Rate untuk periode Agustus 2024. BI telah menaikkan suku bunga sebesar 275 bps dari 3,5% pada Agustus 2022 menjadi 6,25% saat ini. Pemangkasan suku bunga diharapkan bisa mendongkrak kredit dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ibrahim Assuaibi memprediksi, "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp15.350 - Rp15.450," ujar dia dalam keterangan resmi, Selasa (20/8/2024).
Penguatan rupiah ini menjadi kabar baik di tengah narasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih bertahan di level 5% selama kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Meski belum mencapai target 6%, angka ini dianggap sebagai prestasi mengingat banyak negara lain mengalami perlambatan ekonomi.
Dalam Pidato Kenegaraannya, Presiden Jokowi menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi 5% merupakan hal yang patut disyukuri. Ia menegaskan bahwa perekonomian Indonesia pada pemerintahannya bukan didesain untuk tumbuh di kisaran 6%, melainkan untuk menahan agar pertumbuhan tidak turun lebih lanjut, sebagaimana tren penurunan pertumbuhan di pengujung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Sementara itu, di kancah global, beberapa perkembangan turut mempengaruhi sentimen pasar. Konflik Israel-Hamas kembali memanas, dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menerima "proposal penghubung" dari Washington untuk mengatasi perselisihan yang menghambat kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Namun, dengan Hamas mengklaim bertanggung jawab atas ledakan di Tel Aviv pada Minggu malam, dan serangan militer Israel yang menewaskan sedikitnya 30 warga Palestina di Jalur Gaza pada Senin, kekhawatiran akan perang yang lebih luas masih ada.
Di sisi lain, pasar finansial global tengah menanti sinyal dari Federal Reserve AS terkait rencana suku bunga. Mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun 2024, satu kali lebih banyak dari perkiraan sebelumnya. Anggota Fed Mary Daly dan Austan Goolsbee mengisyaratkan kemungkinan pelonggaran pada September. Investor juga menantikan pidato Ketua Fed Jerome Powell di Jackson Hole pada hari Jumat.