Belajar dari Optimisme Hajar
A rahman habsyi
Ahad, 11 Juli 2021 - 05:00 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/ iStock
Atas perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan Ismail AS meninggalkan Palestina menuju lembah yang begitu sepi dan tak berpenghuni. Perjalanan yang cukup jauh membuat Hajar dan Ismail AS bergantian bayi mungil Ismail.
Bayi yang begitu lama yang sangat dinantikan kehadirannya. Setelah sampai di lembah tersebut, Ibrahim AS mendirikan tenda mini yang sangat sederhana dengan menggunakan beberapa ranting kayu dan kain yang dibentangkan diatasnya sebagai tempat bernaungnya Hajar dan Ismail AS.
Setelah itu beranjaklah Ibrahim AS untuk meninggalkan dua orang yang amat sangat ia cintai dan kasihi. Di saat Ibrahim AS membalikkan badannya untuk meninggalkan mereka, Hajar mengejarnya dari belakang sambil bertanya. "Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Akankah engkau tinggalkan kami di tempat yang amat sepi ini?".
Ibrahim AS, tetap melanjutkan langkahnya dan membisu. Lalu, Hajar melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya; "Yaa Ibrahim berapa lama engkau akan pergi? Bekal yang engkau tinggalkan untuk kami juga seadanya".
Ibrahim AS tetap meneruskam langkahnya dan membisu. Tak sanggup ia menatap wajah dua orang yang amat ia kasihi. Kemudian Hajar mengejarnya dengan pertanyaan selanjutnya; "Wahai suamiku, apakah ini perintah dari Rabb-mu?"
Saat itulah Ibrahim AS menghentikan langkahnya, lalu menganggukkan kepalanya. Akhirnya, dengan jiwa besar penuh ketulusan, Hajar berkata kepada Ibrahim AS: "Jika ini benar perintah Allah Rabb-mu dan Rabb-ku, pergilah engkau! Karena aku yakin Allah pasti yang akan menjaga dan merawat kami, dan Allah tak akan menyia-nyiakan harapan sang hamba."
Setelah jauh langkah Ibrahim AS meninggalkan istri dan putranya. Sesampainya ia di atas sebuah bukit, barulah ia membalikkan badannya, dan memandang dari kejauhan dua orang yang sangat ia cintai. Dengan tawakkal yang sempurna, Ibrahim AS bermunajat kepada Allah SWT, yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an:
Bayi yang begitu lama yang sangat dinantikan kehadirannya. Setelah sampai di lembah tersebut, Ibrahim AS mendirikan tenda mini yang sangat sederhana dengan menggunakan beberapa ranting kayu dan kain yang dibentangkan diatasnya sebagai tempat bernaungnya Hajar dan Ismail AS.
Setelah itu beranjaklah Ibrahim AS untuk meninggalkan dua orang yang amat sangat ia cintai dan kasihi. Di saat Ibrahim AS membalikkan badannya untuk meninggalkan mereka, Hajar mengejarnya dari belakang sambil bertanya. "Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Akankah engkau tinggalkan kami di tempat yang amat sepi ini?".
Ibrahim AS, tetap melanjutkan langkahnya dan membisu. Lalu, Hajar melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya; "Yaa Ibrahim berapa lama engkau akan pergi? Bekal yang engkau tinggalkan untuk kami juga seadanya".
Ibrahim AS tetap meneruskam langkahnya dan membisu. Tak sanggup ia menatap wajah dua orang yang amat ia kasihi. Kemudian Hajar mengejarnya dengan pertanyaan selanjutnya; "Wahai suamiku, apakah ini perintah dari Rabb-mu?"
Saat itulah Ibrahim AS menghentikan langkahnya, lalu menganggukkan kepalanya. Akhirnya, dengan jiwa besar penuh ketulusan, Hajar berkata kepada Ibrahim AS: "Jika ini benar perintah Allah Rabb-mu dan Rabb-ku, pergilah engkau! Karena aku yakin Allah pasti yang akan menjaga dan merawat kami, dan Allah tak akan menyia-nyiakan harapan sang hamba."
Setelah jauh langkah Ibrahim AS meninggalkan istri dan putranya. Sesampainya ia di atas sebuah bukit, barulah ia membalikkan badannya, dan memandang dari kejauhan dua orang yang sangat ia cintai. Dengan tawakkal yang sempurna, Ibrahim AS bermunajat kepada Allah SWT, yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an: