LANGIT7.ID - Atas perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan Ismail AS meninggalkan Palestina menuju lembah yang begitu sepi dan tak berpenghuni. Perjalanan yang cukup jauh membuat Hajar dan Ismail AS bergantian bayi mungil Ismail.
Bayi yang begitu lama yang sangat dinantikan kehadirannya. Setelah sampai di lembah tersebut, Ibrahim AS mendirikan tenda mini yang sangat sederhana dengan menggunakan beberapa ranting kayu dan kain yang dibentangkan diatasnya sebagai tempat bernaungnya Hajar dan Ismail AS.
Setelah itu beranjaklah Ibrahim AS untuk meninggalkan dua orang yang amat sangat ia cintai dan kasihi. Di saat Ibrahim AS membalikkan badannya untuk meninggalkan mereka, Hajar mengejarnya dari belakang sambil bertanya. "Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Akankah engkau tinggalkan kami di tempat yang amat sepi ini?".
Ibrahim AS, tetap melanjutkan langkahnya dan membisu. Lalu, Hajar melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya; "Yaa Ibrahim berapa lama engkau akan pergi? Bekal yang engkau tinggalkan untuk kami juga seadanya".
Ibrahim AS tetap meneruskam langkahnya dan membisu. Tak sanggup ia menatap wajah dua orang yang amat ia kasihi. Kemudian Hajar mengejarnya dengan pertanyaan selanjutnya; "Wahai suamiku, apakah ini perintah dari Rabb-mu?"
Saat itulah Ibrahim AS menghentikan langkahnya, lalu menganggukkan kepalanya. Akhirnya, dengan jiwa besar penuh ketulusan, Hajar berkata kepada Ibrahim AS: "Jika ini benar perintah Allah Rabb-mu dan Rabb-ku, pergilah engkau! Karena aku yakin Allah pasti yang akan menjaga dan merawat kami, dan Allah tak akan menyia-nyiakan harapan sang hamba."
Setelah jauh langkah Ibrahim AS meninggalkan istri dan putranya. Sesampainya ia di atas sebuah bukit, barulah ia membalikkan badannya, dan memandang dari kejauhan dua orang yang sangat ia cintai. Dengan tawakkal yang sempurna, Ibrahim AS bermunajat kepada Allah SWT, yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an:
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ
"Aduhai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim:37)
Persediaan bekal mulai menipis. Ismail mungil terus menangis. Hajar kebingungan. Ia berusaha untuk mencari sumber air. Pencarian dilakukan antara bukit Shafa dan Marwah. Berkali-kali Hajar mondar-mandir antara dua bukit tersebut, sampai tujuh kali.
Namun hasilnya nihil. Sambil menengadahkan wajahnya ke langit, Hajar berujar: "Yaa Rabb, kuserahkan urusanku segalanya pada-Mu." Seketika itu pula Allah SWT mengutus Malaikat Jibril AS, guna menghadirkan sumber mata air abadi buat ibu dan anak tersebut.
Ketika Hajar berjalan lemas menghampiri sang anak, betapa terkejutnya ia, saat ada oase air bening di sekitar kaki mungil Ismail AS. Inilah hikmah indah yang terkandung di dalamnya bahwasanya manusia bertugas melakukan ikhtiar/ usaha secara maksimal. Hasil dan penyempurnaannya ada pada Allah SWT.
Usaha Hajar berlangsung di Shafa (kesucian) dan Marwa (kemuliaan/kepuasan). Maknanya setiap usaha yang dilakukan dengan cara-cara suci akan menuai kemuliaan.
Mari perhatikan ucapan Hajar AS di atas tadi yang penuh keyakinan dan optimisme tinggi saat ditinggalkan oleh Ibrahim AS. Ucapan yang memantapkan dirinya bahwa Allah SWT tak pernah menyia-nyiakan harapan sang hamba. Ucapan yang berbobot husnudzdzhan(sangka baik) kepada Sang Khaliq. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits qudsi:
أَناَ عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Sesungguhnya Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hambaKu…”
Mari kita belajar dari optimisme, keyakinan dan prasangka baik dari Hajar.
Wallahua'lam(jak)