Perjalanan DR Mukhaer Pakkanna Menyusuri Iraq, Jalan Kaki 80km dari Najaf ke Karbala
Tim langit 7
Ahad, 01 September 2024 - 21:37 WIB
Perjalanan DR Mukhaer Pakkanna Menyusuri Iraq, Jalan Kaki 80km dari Najaf ke Karbala
LANGIT7.ID-Iraq;Sahabatku... Ini adalah pengalaman spritual yangmungkin sulit sayalupakan. Perjalanan Arbain (Arbaeen Walk) 22 - 24 Agustus 2024, denganberjalan kaki sejauh 80 km dari Najaf ke Karbala, Irak, di tengah sengatan matahari suhu 49 derajat (siang) dan 38 (mlm). Jeda istirahat (tidur) hanyapada siang terik. Pada Arbain Walk 2024 kali ini, diikuti 21.4 jt orangdari pelbagai negara. Memangmayoritas peserta dari muslim Syiah. Namun dijumpai dari Sunni, lintas agama dan lintas etnis atau suku.
Sahabatku... perjalanan jauh ini mmg meletihkan, apalagi jika tidak terbiasa latihan berjalan kaki. Namun, keletihan itu menjadi luruh karena ada roh bebersamaan yangdijahit oleh elan spiritualitas dan emosi kemanusiaan. Ada lebih1.475 mawkib (tonggak) yg harus dilalui.
Namun, berjalan denganrasa gembira daniringan zikir, maka tidakterasa ayunan kaki melangkah tanpa henti. Sayapun teringat pepatah: "jika engkau ingin berjalan cepat maka berjalanlah sendirian. Jika engkau ingin berjalan jauh, maka berjalanlah bersama-sama".
Sahabatku.. sepanjang perjalanan itu, para aktivis filantropi (dermawan) dari penduduk lokal danpelbagai negara lain, menyuguhkan makan, minuman, obat-obatan hingga terapist terbaiknya di kios-kios, secara gratis denganniat welas asih. Mereka berimaji untukmemanen pahala dalamprosesi Arbain. Mereka mengutamakan kepercayaan, dan sulit ditemui tindakan kriminalitas. Bahkan, beberapa mawkib menyuguhkan pula tempat hiburan, seperti film, pentas seni, drama, dan lainnyayg tentu temanya tentangsentimen syahidnya Imam Hussein bin Ali.
Sahabatku... Dalam muslim syiah, hari Arbain artinya harike-40 atau20Shafar yangmerupakan hari ke-40 pasca kesyahidanImam Husain. Tragedi pembantaian Imam Hussein, keluarga, danpara sahabatnya pada10 Muharam 61H dikenal sebagaiTragedi atauHari Assyura.
Sahabatku... sayasebagai muslim Sunni ikut bergetar melihat prosesi kolosal itu, di mana puncak Arbain 2024, tepat Ahad, 25 Agustus. Sayapenasaran dandiundang ke Iran danIrak menyaksikan prosesi kolosal yangmungkin tidakada tandingannya. Selain elan spritualitas, ada fenomena sosiologis danantropologis di situ. Sebagaimuslim Sunni, sayamenapak jejak batin, perspektif baru, dankhasanah dalammelihat fenomena historis danheroik itu(*)
Sahabatku... perjalanan jauh ini mmg meletihkan, apalagi jika tidak terbiasa latihan berjalan kaki. Namun, keletihan itu menjadi luruh karena ada roh bebersamaan yangdijahit oleh elan spiritualitas dan emosi kemanusiaan. Ada lebih1.475 mawkib (tonggak) yg harus dilalui.
Namun, berjalan denganrasa gembira daniringan zikir, maka tidakterasa ayunan kaki melangkah tanpa henti. Sayapun teringat pepatah: "jika engkau ingin berjalan cepat maka berjalanlah sendirian. Jika engkau ingin berjalan jauh, maka berjalanlah bersama-sama".
Sahabatku.. sepanjang perjalanan itu, para aktivis filantropi (dermawan) dari penduduk lokal danpelbagai negara lain, menyuguhkan makan, minuman, obat-obatan hingga terapist terbaiknya di kios-kios, secara gratis denganniat welas asih. Mereka berimaji untukmemanen pahala dalamprosesi Arbain. Mereka mengutamakan kepercayaan, dan sulit ditemui tindakan kriminalitas. Bahkan, beberapa mawkib menyuguhkan pula tempat hiburan, seperti film, pentas seni, drama, dan lainnyayg tentu temanya tentangsentimen syahidnya Imam Hussein bin Ali.
Sahabatku... Dalam muslim syiah, hari Arbain artinya harike-40 atau20Shafar yangmerupakan hari ke-40 pasca kesyahidanImam Husain. Tragedi pembantaian Imam Hussein, keluarga, danpara sahabatnya pada10 Muharam 61H dikenal sebagaiTragedi atauHari Assyura.
Sahabatku... sayasebagai muslim Sunni ikut bergetar melihat prosesi kolosal itu, di mana puncak Arbain 2024, tepat Ahad, 25 Agustus. Sayapenasaran dandiundang ke Iran danIrak menyaksikan prosesi kolosal yangmungkin tidakada tandingannya. Selain elan spritualitas, ada fenomena sosiologis danantropologis di situ. Sebagaimuslim Sunni, sayamenapak jejak batin, perspektif baru, dankhasanah dalammelihat fenomena historis danheroik itu(*)
(lam)