home global news

Rupiah Tahan Gempuran Dolar AS, Penjualan Ritel Jadi Penyelamat?

Selasa, 10 September 2024 - 16:14 WIB
Rupiah Tahan Gempuran Dolar AS, Penjualan Ritel Jadi Penyelamat?
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Rupiah berhasil menguat tipis pada perdagangan sore ini, menantang penguatan dolar AS menjelang rilis data inflasi AS. Mata uang Indonesia iniditutup menguat 1 poin ke level Rp15.455 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp15.456, setelah sempat menguat hingga 20 poin di awal sesi.

Penguatan rupiah terjadi di tengah sentimen global yang cenderung mendukung dolar AS. Pasar valuta asing global sedang menunggu rilis data inflasi AS pada Rabu (11/9/2024) yang akan memberi petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan moneter Federal Reserve (Fed).

"Rupiah masih mampu bertahan di zona hijau meski tipis, menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia yang relatif kuat di mata investor asing," ujar Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, dalam keterangan resmi, Selasa (10/9/2024).

Meski demikian, pergerakan rupiah masih rentan terhadap sentimen global, terutama terkait kebijakan moneter AS. Pasar memperkirakan Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan minggu depan, yang bisa mempengaruhi aliran modal ke negara berkembang termasuk Indonesia.

Fokus pasar global saat ini tertuju pada data inflasi indeks harga konsumen AS yang akan dirilis Rabu (11/9/2024). Tanda-tanda meredanya inflasi kemungkinan akan memacu peningkatan taruhan pada suku bunga yang lebih rendah dalam beberapa bulan mendatang, yang bisa menekan dolar AS.

Pembacaan inflasi AS muncul hanya seminggu sebelum pertemuan Federal Reserve, di mana bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga. Namun, ekspektasi pemangkasan suku bunga pada bulan September juga menjadi pendorong utama melemahnya dolar AS baru-baru ini.

Sementara itu, data ekonomi Tiongkok kembali menjadi sorotan. Neraca perdagangan Tiongkok secara tak terduga tumbuh pada bulan Agustus karena menguatnya ekspor. Namun, impor yang lamban mengimbangi optimisme atas tren ini, menandakan permintaan domestik yang masih lesu di negara tersebut.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya