home global news

Rupiah Melemah Tajam, Investor Waswas Jelang Keputusan The Fed dan ECB

Kamis, 12 September 2024 - 16:14 WIB
Rupiah Melemah Tajam, Investor Waswas Jelang Keputusan The Fed dan ECB
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan sore ini, Kamis (12/09/2024). Mata uang iniditutup melemah 37 poin ke level Rp15.439 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp15.402. Sebelumnya, rupiah sempat melemah hingga 50 poin.

Pelemahan rupiah hari ini tidak terlepas dari penguatan indeks dolar AS. Hal ini dipicu oleh data inflasi indeks harga konsumen inti AS untuk bulan Agustus yang terbaca lebih tinggi dari yang diharapkan. Sementara inflasi IHK utama masih mereda, pembacaan inti menunjukkan bahwa inflasi mungkin terbukti lebih kuat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Taruhan bahwa bank sentral AS akan memangkas suku bunga hanya sebesar 25 basis poin ketika bertemu minggu depan tumbuh secara substansial setelah rilis data tersebut. Sementara itu, taruhan pada pemotongan 50 basis poin berkurang lebih dari setengahnya, seperti yang ditunjukkan oleh CME Fedwatch.

"Prospek pemotongan suku bunga yang lebih kecil menjadi pertanda buruk bagi mata uang yang melawan dolar AS, mengingat skenario seperti itu menandakan kondisi moneter AS yang lebih ketat untuk waktu yang lebih lama," ujar Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka dalam keterangan resmi, Kamis (12/09/2024).

Sementara itu, pelaku pasar juga menantikan keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan diumumkan hari ini. ECB diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pukul 12.15 GMT. Investor akan mencermati komentar Presiden ECB Christine Lagarde, yang akan dirilis pada pukul 12.45 GMT, untuk mengonfirmasi kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut pada Oktober dan Desember.

Dari sisi internal, pasar mulai mengantisipasi tantangan yang akan dihadapi pemerintahan baru Prabowo-Gibran yang akan dilantik satu bulan lagi. Situasi geopolitik yang terus memanas, terutama di kawasan Timur Tengah dan Eropa, menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai.

Tensi geopolitik berimbas pada lonjakan harga minyak dunia, yang memperburuk tekanan inflasi global. Bank sentral negara-negara maju pun enggan menurunkan suku bunga, menambah ketidakpastian ekonomi global yang berpengaruh pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya