Kiai Imam Zarkasyi, Si Bungsu Penanggung Jawab KMI Gontor
Muhajirin
Senin, 13 September 2021 - 14:17 WIB
Ilustrasi santri Kulliyatul Muallimin al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor. Foto: Gontor
Kiai Imam Zarkasyi lahir di Ponorogo pada 21 Maret 1910 M. Dia merupakan Putra ketujuh Kiai Santoso Anom Besari. Jalan hidup beliau tak hanya bersentuhan dengan Pondok Gontor saja. Zarkasyi adalah bungsu dari tujuh bersaudara. Empat kakak tertuanya terdiri dari satu orang kakak laki-laki (anak pertama) dan tiga orang kakak perempuan.
Ayah dan ibu Kiai Imam Zarkasyi merupakan tokoh pergerakan keagamaan dan pemerintahan. Ayahnya, Santoso Anom Besari merupakan generasi ketiga dari pimpinan Pondok Gontor lama dan generasi kelima dari Pangeran Hadiraja Adipati Anom, putra Sultan Kasepuhan Cirebon.
Baca Juga:Ingin Pahami Islam dengan Baik, Rizal Armada Punya Cita-Cita Jadi Santri
Setelah sang ayah meninggal, pesantren Gontor Lama vakum. Maka itu, itu, Zarkasyi bersama kedua kakak laki-lakinya sejak kecil diwanti-wanti sang paman untuk bisa meneruskan kehidupan pesantren yang mati suri sejak kematian ayahnya.
Sementara, ibu beliau merupakan keturunan Bupati Suriadiningrat, yang terkenal pada zaman Babad Mangkubumen dan Penambangan (Mangkunegaran). Sang ibu terkenal shalihah dan taat beribadah. Kiai Imam Zarkasyi banyak menerima pengajaran dan pendidikan Islam dari beliau.
Kiai Imam Zarkasyi sangat terkenang dengan petuah sang ibu, "Kamu harus menjadi alim dan shalih. Dari pada mempunyai harta, lebih baik mempunyai ilmu." Begitu pesan ibunda Kiai Imam Zarkasyi seperti ditulis Hery Noer Aly (2003 dalam artikel berjudul ‘KH Imam Zarkasyi: Tafsir Modern Pendidikan Islam’).
Pada 1920, hanya dua tahun setelah kematian Kiai Santoso, ibunda Zarkasyi meninggal. Sepeninggalnya, ketujuh putra-putrinya bermusyawarah. Dalam musyawarah tersebut, Zarkasyi dan kedua kakaknya mengusulkan agar harta peninggalan kedua orang tua mereka tidak diusik hingga sepuluh tahun ke depan.
Ayah dan ibu Kiai Imam Zarkasyi merupakan tokoh pergerakan keagamaan dan pemerintahan. Ayahnya, Santoso Anom Besari merupakan generasi ketiga dari pimpinan Pondok Gontor lama dan generasi kelima dari Pangeran Hadiraja Adipati Anom, putra Sultan Kasepuhan Cirebon.
Baca Juga:Ingin Pahami Islam dengan Baik, Rizal Armada Punya Cita-Cita Jadi Santri
Setelah sang ayah meninggal, pesantren Gontor Lama vakum. Maka itu, itu, Zarkasyi bersama kedua kakak laki-lakinya sejak kecil diwanti-wanti sang paman untuk bisa meneruskan kehidupan pesantren yang mati suri sejak kematian ayahnya.
Sementara, ibu beliau merupakan keturunan Bupati Suriadiningrat, yang terkenal pada zaman Babad Mangkubumen dan Penambangan (Mangkunegaran). Sang ibu terkenal shalihah dan taat beribadah. Kiai Imam Zarkasyi banyak menerima pengajaran dan pendidikan Islam dari beliau.
Kiai Imam Zarkasyi sangat terkenang dengan petuah sang ibu, "Kamu harus menjadi alim dan shalih. Dari pada mempunyai harta, lebih baik mempunyai ilmu." Begitu pesan ibunda Kiai Imam Zarkasyi seperti ditulis Hery Noer Aly (2003 dalam artikel berjudul ‘KH Imam Zarkasyi: Tafsir Modern Pendidikan Islam’).
Pada 1920, hanya dua tahun setelah kematian Kiai Santoso, ibunda Zarkasyi meninggal. Sepeninggalnya, ketujuh putra-putrinya bermusyawarah. Dalam musyawarah tersebut, Zarkasyi dan kedua kakaknya mengusulkan agar harta peninggalan kedua orang tua mereka tidak diusik hingga sepuluh tahun ke depan.