Iran Serang Israel, Balas Dendam atau Pemicu Perang?
Nabil
Kamis, 03 Oktober 2024 - 09:52 WIB
Iran Serang Israel, Balas Dendam atau Pemicu Perang?
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mayjen Hossein Salami, menunjukkan sikap tegas di ruang komando militer pada Selasa malam. Berdiri di depan spanduk besar yang sarat simbolisme, ia mengangkat telepon dan memberikan perintah yang menggemparkan dunia: peluncuran sekitar 200 rudal balistik ke arah Israel. Momen bersejarah ini, yang direkam dan disebarluaskan oleh media Iran, menandai eskalasi dramatis ketegangan di Timur Tengah.
Spanduk tersebut menampilkan foto tiga tokoh yang ingin dibalaskan kematiannya oleh Iran. Mereka adalah pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh yang tewas di Tehran Juli lalu, pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah, dan komandan operasi Pasukan Quds IRGC Brigjen Abbas Nilforoushan yang tewas dalam serangan udara Israel di Beirut pekan lalu.
IRGC mengklaim serangan itu termasuk rudal hipersonik Fattah yang hanya butuh 12 menit untuk mencapai Israel. Mereka menyatakan berhasil menghantam beberapa target termasuk tiga pangkalan udara Israel dan markas besar agen intelijen Mossad.
Namun, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membantah klaim tersebut. Mereka menyatakan sebagian besar rudal "berhasil dicegat oleh Israel dan koalisi pertahanan pimpinan Amerika Serikat". Hanya "sejumlah kecil" serangan yang berhasil mengenai wilayah Israel tengah dan selatan.
Tak lama setelah serangan, spanduk raksasa dipasang di Lapangan Palestina di Tehran. Spanduk itu menggambarkan rudal-rudal yang terbang menuju bangunan berbentuk Bintang Daud dengan tulisan "Awal dari Akhir Zionisme".
Iran sebelumnya terlihat menahan diri pasca pembunuhan Haniyeh. Namun sikap pasif ini justru menjadi sumber penghinaan ketika Israel melancarkan serangkaian pukulan telak terhadap sekutu terdekat Iran, Hizbullah. Puncaknya adalah serangan udara Jumat lalu yang menewaskan Nasrallah dan Nilforoushan.
Senjata, pelatihan, dan pendanaan dari Iran sangat penting dalam transformasi Hizbullah menjadi kekuatan bersenjata dan aktor politik terkuat di Lebanon sejak IRGC membantu mendirikan kelompok ini pada 1980-an.
Spanduk tersebut menampilkan foto tiga tokoh yang ingin dibalaskan kematiannya oleh Iran. Mereka adalah pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh yang tewas di Tehran Juli lalu, pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah, dan komandan operasi Pasukan Quds IRGC Brigjen Abbas Nilforoushan yang tewas dalam serangan udara Israel di Beirut pekan lalu.
IRGC mengklaim serangan itu termasuk rudal hipersonik Fattah yang hanya butuh 12 menit untuk mencapai Israel. Mereka menyatakan berhasil menghantam beberapa target termasuk tiga pangkalan udara Israel dan markas besar agen intelijen Mossad.
Namun, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membantah klaim tersebut. Mereka menyatakan sebagian besar rudal "berhasil dicegat oleh Israel dan koalisi pertahanan pimpinan Amerika Serikat". Hanya "sejumlah kecil" serangan yang berhasil mengenai wilayah Israel tengah dan selatan.
Tak lama setelah serangan, spanduk raksasa dipasang di Lapangan Palestina di Tehran. Spanduk itu menggambarkan rudal-rudal yang terbang menuju bangunan berbentuk Bintang Daud dengan tulisan "Awal dari Akhir Zionisme".
Iran sebelumnya terlihat menahan diri pasca pembunuhan Haniyeh. Namun sikap pasif ini justru menjadi sumber penghinaan ketika Israel melancarkan serangkaian pukulan telak terhadap sekutu terdekat Iran, Hizbullah. Puncaknya adalah serangan udara Jumat lalu yang menewaskan Nasrallah dan Nilforoushan.
Senjata, pelatihan, dan pendanaan dari Iran sangat penting dalam transformasi Hizbullah menjadi kekuatan bersenjata dan aktor politik terkuat di Lebanon sejak IRGC membantu mendirikan kelompok ini pada 1980-an.