Rupiah Terpuruk, Ekonom Peringatkan Ancaman Deflasi Berkepanjangan
Nabil
Jum'at, 04 Oktober 2024 - 16:33 WIB
Rupiah Terpuruk, Ekonom Peringatkan Ancaman Deflasi Berkepanjangan
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan sore ini, Jumat (4/10/2024). Mata uang Garuda ditutup melemah 56,5 poin ke level Rp15.485 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp15.428,5.
Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS menjelang rilis data tenaga kerja AS. Pasar menantikan laporan non-farm payrolls yang akan memberikan petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut membuat pasar gelisah. Konflik antara Israel dan Iran semakin memanas, dengan AS mempertimbangkan dukungan untuk serangan Israel ke fasilitas minyak Iran sebagai balasan atas serangan rudal Tehran. Sementara itu, Israel melancarkan serangan udara baru ke Beirut dalam konfliknya dengan Hizbullah di Lebanon. Situasi ini menambah sentimen negatif terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
"Pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS menjelang rilis data tenaga kerja, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Faktor-faktor ini membuat pasar gelisah,"ujar Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka dalam keterangan resmi, Jumat (4/10/2024).
Lebih lanjut, fokus pasar tertuju pada data ekonomi AS yang menunjukkan kondisi masih solid. Aktivitas sektor jasa AS melonjak ke level tertinggi 1,5 tahun pada September, sementara laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan pasar tenaga kerja yang kuat pada akhir kuartal ketiga.
Hal ini membuat pedagang mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga Fed sebesar 50 basis poin pada November. Kontrak berjangka kini hanya menunjukkan peluang 35% untuk skenario tersebut.
Dari sisi internal, deflasi yang terjadi selama lima bulan berturut-turut sejak Mei hingga September 2024 menjadi sorotan. Fenomena ini mengindikasikan melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah, terutama pekerja.
Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS menjelang rilis data tenaga kerja AS. Pasar menantikan laporan non-farm payrolls yang akan memberikan petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut membuat pasar gelisah. Konflik antara Israel dan Iran semakin memanas, dengan AS mempertimbangkan dukungan untuk serangan Israel ke fasilitas minyak Iran sebagai balasan atas serangan rudal Tehran. Sementara itu, Israel melancarkan serangan udara baru ke Beirut dalam konfliknya dengan Hizbullah di Lebanon. Situasi ini menambah sentimen negatif terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
"Pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS menjelang rilis data tenaga kerja, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Faktor-faktor ini membuat pasar gelisah,"ujar Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka dalam keterangan resmi, Jumat (4/10/2024).
Lebih lanjut, fokus pasar tertuju pada data ekonomi AS yang menunjukkan kondisi masih solid. Aktivitas sektor jasa AS melonjak ke level tertinggi 1,5 tahun pada September, sementara laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan pasar tenaga kerja yang kuat pada akhir kuartal ketiga.
Hal ini membuat pedagang mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga Fed sebesar 50 basis poin pada November. Kontrak berjangka kini hanya menunjukkan peluang 35% untuk skenario tersebut.
Dari sisi internal, deflasi yang terjadi selama lima bulan berturut-turut sejak Mei hingga September 2024 menjadi sorotan. Fenomena ini mengindikasikan melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah, terutama pekerja.