Cerita Lisa Namuri Instruktur Pilates; Sempat Ditolak karena Berhijab, hingga 2 Dekade Berkarir
Lusi mahgriefie
Sabtu, 16 November 2024 - 06:05 WIB
Lisa Namuri. Foto: instagram
Nama Lisa Namuri begitu dikenal sebagai instruktur yoga dan pilates. Terhitung sudah lebih dari dua dekade ia menjalani profesinya. Ups and downs dalam perjalanan karir tentu dirasakan, termasuk pernah ditolak sebagai instruktur olahraga lantaran berhijab.
Lisa mulai menjalani pekerjaan sebagai instruktur olahraga sejak usia 19 tahun, tepatnya di tahun 1998 saat mulai masuk kuliah. Ia mengawali profesinya sebagai asisten instruktur di Bandung.
“Awalnya saya ikut senam sama kakak saya. Kakak saya pakai privat instruktur, dan dari situ Kak Rara namanya (instruktur senam) melihat saya punya potensi dan akhirnya ditawari jadi asisten instruktur. Saat itu, tahun 1998 bayarannya cuma Rp150 ribu per bulan dan itu awal-awal saya masuk kuliah,” kata Lisa saat ditemui Langit7 di rumahnya kawasan Jakarta Barat, Jumat (15/11/2024).
Lisa House, Studio Pilates Lisa Namuri di kawasan Jakarta Barat. Foto: Lusi M
Kala itu Lisa tidak berpikir bahwa gaji minim yang ia dapat menjadi penghalang untuk melakukan hal yang ia suka. Justru sebaliknya, dia amat menikmati karena bisa melakukan hobi sekaligus menghasilkan uang, sudah cukup membuat ibu dari empat ini bahagia.
Seiring berjalan waktu, Lisa yang sejak kecil memang sudah hobi berolahraga itu terus mengembangkan diri hingga akhirnya memiliki studio sendiri. Tak tanggung-tanggung, ia memiliki dua studio di Bandung.
“Studio pertama itu studio body language di Bandung. Klien saya makin banyak dan waktu itu penghasilan saya sudah lebih tinggi dari UMR saat itu. Jadi saya senang karena masih kuliah, bisa menjalani hobi yang saya suka, dan dapat penghasilan banyak. Lalu studio kedua di Bandung ada di Jatinangor,” ucapnya.
Lisa mulai menjalani pekerjaan sebagai instruktur olahraga sejak usia 19 tahun, tepatnya di tahun 1998 saat mulai masuk kuliah. Ia mengawali profesinya sebagai asisten instruktur di Bandung.
“Awalnya saya ikut senam sama kakak saya. Kakak saya pakai privat instruktur, dan dari situ Kak Rara namanya (instruktur senam) melihat saya punya potensi dan akhirnya ditawari jadi asisten instruktur. Saat itu, tahun 1998 bayarannya cuma Rp150 ribu per bulan dan itu awal-awal saya masuk kuliah,” kata Lisa saat ditemui Langit7 di rumahnya kawasan Jakarta Barat, Jumat (15/11/2024).
Lisa House, Studio Pilates Lisa Namuri di kawasan Jakarta Barat. Foto: Lusi M
Kala itu Lisa tidak berpikir bahwa gaji minim yang ia dapat menjadi penghalang untuk melakukan hal yang ia suka. Justru sebaliknya, dia amat menikmati karena bisa melakukan hobi sekaligus menghasilkan uang, sudah cukup membuat ibu dari empat ini bahagia.
Seiring berjalan waktu, Lisa yang sejak kecil memang sudah hobi berolahraga itu terus mengembangkan diri hingga akhirnya memiliki studio sendiri. Tak tanggung-tanggung, ia memiliki dua studio di Bandung.
“Studio pertama itu studio body language di Bandung. Klien saya makin banyak dan waktu itu penghasilan saya sudah lebih tinggi dari UMR saat itu. Jadi saya senang karena masih kuliah, bisa menjalani hobi yang saya suka, dan dapat penghasilan banyak. Lalu studio kedua di Bandung ada di Jatinangor,” ucapnya.