Terlalu Banyak Waktu Luang Ternyata Juga Tidak Baik
Muhammad rifai akif
Kamis, 16 September 2021 - 23:46 WIB
Terlalu banyak waktu luang tidak selalu berarti baik, apalagi bila tidak dimanfaatkan dengan bijaksana. Foto: Langit7.id/IStock
Tak selamanya waktu luang itu baik. Bahkan menurut studi terlalu banyak waktu luang bisa menjadi buruk bagi kesejahteraan mental seseorang.
Hal ini diungkap dalam jurnal American Psychological Association.
"Kami menemukan, terlalu banyak waktu luang dalam satu hari menghasilkan stres yang lebih besar dan kesejahteraan subjektif yang lebih rendah," kata Marissa Sharif, PhD, salah satu penulis studi, seperti dikutip dari Science Daily, Kamis (16/9/2021)
Jadi, meskipun terlalu sedikit waktu luang itu buruk, tapi memiliki lebih banyak waktu juga tidak lantas baik.
Kesimpulan ini didapat setelah para peneliti menganalisis data dari 21.736 orang yang berpartisipasi dalam American Time Use Survey pada tahun 2012 dan 2013.
Mereka menemukan, ketika waktu luang meningkat, kesejahteraan juga meningkat. Hanya saja peningkatan terlihat sekitar dua jam. Kondisi itu menurun setelah lima jam.
Para peneliti juga menganalisis data dari 13.639 pekerja Amerika yang berpartisipasi dalam National Study of the Changing Workforce antara tahun 1992 dan 2008.
Hal ini diungkap dalam jurnal American Psychological Association.
"Kami menemukan, terlalu banyak waktu luang dalam satu hari menghasilkan stres yang lebih besar dan kesejahteraan subjektif yang lebih rendah," kata Marissa Sharif, PhD, salah satu penulis studi, seperti dikutip dari Science Daily, Kamis (16/9/2021)
Jadi, meskipun terlalu sedikit waktu luang itu buruk, tapi memiliki lebih banyak waktu juga tidak lantas baik.
Kesimpulan ini didapat setelah para peneliti menganalisis data dari 21.736 orang yang berpartisipasi dalam American Time Use Survey pada tahun 2012 dan 2013.
Mereka menemukan, ketika waktu luang meningkat, kesejahteraan juga meningkat. Hanya saja peningkatan terlihat sekitar dua jam. Kondisi itu menurun setelah lima jam.
Para peneliti juga menganalisis data dari 13.639 pekerja Amerika yang berpartisipasi dalam National Study of the Changing Workforce antara tahun 1992 dan 2008.