Mulya E Siregar: Bank Syariah harus Beroperasi Secara Efisien
Zulkarmedi siregar
Senin, 12 Juli 2021 - 08:56 WIB
Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia, Mulya E. Siregar. Foto: istimewa
Dunia perbankan syariah, bagi pria kelahiran Jakarta, 14 Maret 1957 ini bukanlah hal baru. Jejak rekam karirnya memberi bukti. Dia memulai karir dengan mengikuti Pendidikan Calon Pegawai Muda (PCPM) BI pada tahun 1983. Berselang lima tahun kemudian, dia menjabat sebagai Kepala Seksi Ekonomi dan Statistik Kantor Bank Indonesia Manado.
Lulusan Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) ini sempat menjabat sebagai Asisten Manager pada proyek PIR III Rimbo Bujang, Jambi. Karir Mulya semakin melejit, hingga menjabat sebagai Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI pada tahun 2010.
Dalam perjalanan sejarah fungsi pengawasan perbankan beralih dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perubahan kebijakan itu membawa Mulya ikut beralih ke lembaga pengawas industri keuangan tersebut dan menjabat sebagai Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I OJK pada 2012 silam.
Selanjutnya, karir Mulya berlabuh di Bank Mandiri Syariah (BSM). Dia dipercaya sebagai Komisaris Utama (Komut) menggantikan Ventje Rahardjo pada tahun 2017. Kini, Mulya E. Siregar juga dipercaya menjadi Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia, gabungan tiga bank syariah plat merah milik pemerintah.
Bagaimana Mulya E. Siregar memandang dunia perbankan syariah? Bagaimana kualitas SDM perbankan syariah? Bagaimana kesiapan perbankan syariah bersaing dengan perbankan umum? Berikut penjelasan pria bertubuh tingggi besar ini kepada LANGIT7.ID:
Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pangsa industri jasa keuangan syariah baru 9,90 persen, sedangkan bank syariah lebih kecil lagi baru 6,5 persen. Kondisi tersebut tidak lepas dari rendahnya literasi keuangan syariah yang baru sekitar 8,93 persen. Tanggapan Anda?
Pada awal-awal pengembangan keuangan/perbankan syariah tahun 1999 sampai 2007 literasi dilakukan melalui sosialisasi dan seminar yang dilakukan di daerah-daerah. Ternyata kurang efektif karena yang diinginkan masyarakat adalah ingin merasakan bagaimana berbank secara syariah atau mereka ingin memiliki pengalaman sehingga dapat membandingkan dengan bank konvensional.
Lulusan Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) ini sempat menjabat sebagai Asisten Manager pada proyek PIR III Rimbo Bujang, Jambi. Karir Mulya semakin melejit, hingga menjabat sebagai Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI pada tahun 2010.
Dalam perjalanan sejarah fungsi pengawasan perbankan beralih dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perubahan kebijakan itu membawa Mulya ikut beralih ke lembaga pengawas industri keuangan tersebut dan menjabat sebagai Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I OJK pada 2012 silam.
Selanjutnya, karir Mulya berlabuh di Bank Mandiri Syariah (BSM). Dia dipercaya sebagai Komisaris Utama (Komut) menggantikan Ventje Rahardjo pada tahun 2017. Kini, Mulya E. Siregar juga dipercaya menjadi Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia, gabungan tiga bank syariah plat merah milik pemerintah.
Bagaimana Mulya E. Siregar memandang dunia perbankan syariah? Bagaimana kualitas SDM perbankan syariah? Bagaimana kesiapan perbankan syariah bersaing dengan perbankan umum? Berikut penjelasan pria bertubuh tingggi besar ini kepada LANGIT7.ID:
Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pangsa industri jasa keuangan syariah baru 9,90 persen, sedangkan bank syariah lebih kecil lagi baru 6,5 persen. Kondisi tersebut tidak lepas dari rendahnya literasi keuangan syariah yang baru sekitar 8,93 persen. Tanggapan Anda?
Pada awal-awal pengembangan keuangan/perbankan syariah tahun 1999 sampai 2007 literasi dilakukan melalui sosialisasi dan seminar yang dilakukan di daerah-daerah. Ternyata kurang efektif karena yang diinginkan masyarakat adalah ingin merasakan bagaimana berbank secara syariah atau mereka ingin memiliki pengalaman sehingga dapat membandingkan dengan bank konvensional.