Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 22 April 2026
home wirausaha syariah detail berita

Mulya E Siregar: Bank Syariah harus Beroperasi Secara Efisien

zulkarmedi siregar Senin, 12 Juli 2021 - 08:56 WIB
Mulya E Siregar: Bank Syariah harus Beroperasi Secara Efisien
Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia, Mulya E. Siregar. Foto: istimewa
LANGIT7.ID, Jakarta - Dunia perbankan syariah, bagi pria kelahiran Jakarta, 14 Maret 1957 ini bukanlah hal baru. Jejak rekam karirnya memberi bukti. Dia memulai karir dengan mengikuti Pendidikan Calon Pegawai Muda (PCPM) BI pada tahun 1983. Berselang lima tahun kemudian, dia menjabat sebagai Kepala Seksi Ekonomi dan Statistik Kantor Bank Indonesia Manado.

Lulusan Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) ini sempat menjabat sebagai Asisten Manager pada proyek PIR III Rimbo Bujang, Jambi. Karir Mulya semakin melejit, hingga menjabat sebagai Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI pada tahun 2010.

Dalam perjalanan sejarah fungsi pengawasan perbankan beralih dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perubahan kebijakan itu membawa Mulya ikut beralih ke lembaga pengawas industri keuangan tersebut dan menjabat sebagai Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I OJK pada 2012 silam.

Selanjutnya, karir Mulya berlabuh di Bank Mandiri Syariah (BSM). Dia dipercaya sebagai Komisaris Utama (Komut) menggantikan Ventje Rahardjo pada tahun 2017. Kini, Mulya E. Siregar juga dipercaya menjadi Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia, gabungan tiga bank syariah plat merah milik pemerintah.

Bagaimana Mulya E. Siregar memandang dunia perbankan syariah? Bagaimana kualitas SDM perbankan syariah? Bagaimana kesiapan perbankan syariah bersaing dengan perbankan umum? Berikut penjelasan pria bertubuh tingggi besar ini kepada LANGIT7.ID:

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pangsa industri jasa keuangan syariah baru 9,90 persen, sedangkan bank syariah lebih kecil lagi baru 6,5 persen. Kondisi tersebut tidak lepas dari rendahnya literasi keuangan syariah yang baru sekitar 8,93 persen. Tanggapan Anda?

Pada awal-awal pengembangan keuangan/perbankan syariah tahun 1999 sampai 2007 literasi dilakukan melalui sosialisasi dan seminar yang dilakukan di daerah-daerah. Ternyata kurang efektif karena yang diinginkan masyarakat adalah ingin merasakan bagaimana berbank secara syariah atau mereka ingin memiliki pengalaman sehingga dapat membandingkan dengan bank konvensional.

Sejak itu BI/OJK mengubah literasi dengan melengkapi sosialisasi dan seminar dengan pameran-pameran dimana bank syariah dapat membuka stand atau booth sehingga masyarakat bisa langsung merasakan pelayanan bank syariah dengan dapat membuka account di pameran tersebut. Selanjutnya experience yang ada di masyarakat tersebut harus di maintain oleh bank syariah agar tidak kecewa yaitu melalui pelayanan yang profesional.

Mengikuti perkembangan zaman khususnya teknologi dan efisien sehingga pelayanan yang dilaksanakan harus sejalan dengan literasi yang disampaikan. Dengan demikian, kegiatan literasi harus konsisten dengan pelaksanaan pelayanan bank syariah dan tentu harus terus berlanjut tanpa henti sehingga diharapkan indeks inklusi keuangan syariah dapat meningkat.

Bagaimana posisi SDM terutama sumber daya yang andal dan berkompetensi tinggi di bidang perbankan syariah kini?

SDM bank syariah pada dasarnya adalah bibit-bibit unggul yang terpilih dari seleksi yang ketat, namun sayang ketika sudah bekerja di bank syariah, SDM nya jarang dipoles dengan kegiatan traning yang berkesinambungan. Sesuai ketentuan Bank Indonesia bahwa biaya pengembangan SDM yang harus dikeluarkan oleh Bank syariah adalah 5% dari biaya tenaga kerja, tapi pada kenyataannya biaya pengembangan SDM di bank syariah berkisar antara 1% sampai 3% sehingga tidak optimal kegiatan pengembangan SDM-nya.

Pengalaman di Bank Syariah Mandiri (BSM), ketika sejak tahun 2017 sesuai arahan BOC, BOD komit untuk meningkatkan biaya pengembangan SDM dari hanya 1,63% dari biaya tenaga kerja pada tahun 2016 menjadi 3,17% pada tahun 2017. Selanjutnya diatas 4% pada tahun 2018 dan 2019 dengan kesempatan-kesempatan training di dalam maupun luar negeri dan dilaksanakan bagi pegawai kantor pusat maupun kantor cabang.

Impact dari peningkatan biaya pengemb SDM ini langsung terlihat dari skill dan confidence level pegawai yang meningkat yang tercermin dari pencapaian ranking tertinggi dalam training yang diikuti juga oleh pegawai anak perusahaan Mandiri dan pegawai Bank Mandiri maupun berbagai lomba tentang SDM yang diadakan induk Bank Mandiri, pegawai BSM seringkali berada pada 5 besar dan bahkan mencapai yang terbaik.

Menyangkut digitalisasi perbankan. Perubahan gaya hidup dengan dominasi transformasi teknologi mengharuskan perbankan mengubah modal dan basis bisnisnya. Seperti apa kesiapan BSI?

Dengan menyadari bahwa 158 juta penduduk Indonesia adalah penduduk Muslim yang produktif, kemudian 44% nya adalah conformist dan universalist sehingga ada sekitar 70 juta penduduk Muslim. Kemudian dari 70 juta tersebut ada 48% pioneer dan 24% pragmatist, maka the real market size nya ada sekitar 50 juta (72% x 70juta) yang didominasi oleh generasi milenial yang memiliki kebutuhan dan perilaku yang berbeda dengan generasi pendahulunya.

Disinilah klita memasuki disruptive era yang lebih kita kenal sebagai triple disruptions yaitu milenial disruption, digital disruption dan pandemi disruption. Ketiga disruptions mengubah pelayanan bank yang tadinya yesterday bank, bank menunggu nasabah datang ke kantor bank menjadi today bank dimana bank mendatangi nasabah melalui teknologi digital. Dengan kesadaran kita memasuki disruptive era tersebut BSI telah siap dengan berbagai layanan digital mulai dengan Burekol (Buka Rekening Online), transaksi keuangan melalui QRIS dan layanan berbasius digital dengan Syariah Universal Values.

Perbankan syariah masih dihadapkan oleh sejumlah tantangan untuk bisa berkembang. Salah satu tantangan cukup berat yang dihadapi oleh perbankan syariah yaitu biaya dana yang relatif mahal sehingga sulit bersaing dengan bank konvensional. Tanggapan Anda?

Ini pendapat yang harus di validasi dalam mengatakan relatif lebih mahal dari bank konvensional. Apakah dalam membandingkan pricing dari kedua jenis bank sudah berada pada kelas bank yang sama atau tidak. Bila pricing bank syariah BUKU 1 dibandingkan dengan pricing bank konvensional BUKU 3 yang jauh lebih besar, ya pasti bank syariah akan lebih mahal. Tapi bila dibandingkan pada kelas yang sama pricing tersebut akan kompetitif bahkan ada pricing bank syariah lebih murah sesuai dengan penjelasan Bapak Gunawan, Deputi Direktur Pengembangan Perbankan Syariah-OJK ketika diskusi dengan kami pada tanggal 03/07/2021.

Selain itu dapat kami sampaikan beberapa produk pembiayaan retail BSI sudah dapat bersaing dengan bank konvensional bahkan Bank BUkU 4 dalam pembiayaan pembelian mobil atau rumah. Ini bisa terjadi karena dana yang dihimpun BSI dapat diperoleh dari prinsip wadiah atau titipan dana pada bank syariah yang tidak berkewajiban memberikan bagi hasil.

Nasabah-nasabah seperti ini semakin banyak, yang penting bagi mereka tenang menempatkan dana nya di BSI dan bila mereka akan melakukan transaksi dimana dan kapan saja secara digital dapat dilakukan. Sehingga hal ini meningkatkan keberadaan dana murah yang semakin meningkat yang diperkirakan DPK (Dana Pihak Ketiga) dari BSI yang berprinsip wadiah dapat mencapai 20%. Maka wajarlah BSI mulai mampu memberikan pricing pembiayaan yang bersaing dengan bank konvensional.

Menurut Anda, apa yang harus dilakukan agar bank syariah bisa bersaing dengan perbankan umum?

Sebagaimana saya jelaskan diatas, bank syariah harus mampu beroperasi secara efisien dan mampu menghimpun dana murah dari jenis giro dan tabungan, yang mana saat ini di BSI telah mencapai lebih 50% atau sekitar 56% dari total DPK. Deposito yang biasanya jauh lebih mahal hanya berkisar 44%.

Ditambah lagi bila dana giro dan tabungan dapat dihimpun dengan prinsip wadiah yang bank syariah tidak berkewajiban memberikan bagi hasil. Nasabah yang sudah menempatkan dananya di bank syariah dengan prinsip wadiah harus di maintain jangan sampai mereka kecewa dengan pelayanan bank syariah dan selanjutnya harus diperluas dengan mengajak nasabah baru yang biasanya ada di komunitas hijrah untuk mernjadi nasabah bank syariah.

(zul)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 22 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)