Kisah Tabi'in Muhammad bin Wasi' Hiasan Para Ahli Fikih
Tim langit 7
Kamis, 26 Desember 2024 - 19:37 WIB
Kisah Tabi'in Muhammad bin Wasi' Hiasan Para Ahli Fikih
LANGIT7.ID-Jakarta;Pada era Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik terjadi perang dalam rangka merebut daerah Jurjan dan Tabaristan. Kala itu, Yazid bin Muhallab bin Abi Sufrah, salah satu pedang Islam yang terhunus dan wali daerah Khurasan yang kuat, bergerak cepat bersama pasukannya yang berjumlah seratus ribu orang, ditambah para sukarelawan dari mereka yang ingin mencari syahadah dan mencari pahala.
Di barisan terdepan tampak seorang tabi’in utama bernama Muhammad bin Waasi’ dari Bashrah. Beliau dikenal dengan sebutan Zainul Fuqaha (hiasan para ahli fikih). Sering dipanggil abid Bashrah dan merupakan murid sahabat utama Anas bin Malik Al-Anshari, pembantu Rasulullah SAW.
Dr Abdurrahman Ra’at Basya dalam bukunya berjudul "Mereka adalah Para Tabi’in" menceritakan panglima perang Ibnu Muhallab beserta pasukannya bermarkas di Dihistan yang didiami oleh orang-orang Turki yang kuat dan perkasa.
Baca juga: Kisah Abu Sufyan bin Harits: Sepupu Nabi, 20 Tahun Memerangi Islam
Benteng-benteng mereka kokoh dan setiap hari menyerang kaum muslimin. Bila kepayahan atau merasa terdesak dalam pertempuran, mereka mundur ke lembah-lembah di daerah bergunung-gunung, lalu berlindung di balik bentengnya yang kokoh.
Meski kurus tubuhnya dan lanjut usianya, Muhammad bin Waasi’ memegang posisi yang cukup penting dalam pasukan Islam. Pasukan merasa terhibur oleh cahaya iman yang terpancar dari wajahnya yang cerah dan makin bersemangat bila mendengar nasihat-nasihat yang keluar dari lidahnya yang lembut serta menjadi tenang karena do’a-do’anya yang mustajab dalam kesulitan.
Di barisan terdepan tampak seorang tabi’in utama bernama Muhammad bin Waasi’ dari Bashrah. Beliau dikenal dengan sebutan Zainul Fuqaha (hiasan para ahli fikih). Sering dipanggil abid Bashrah dan merupakan murid sahabat utama Anas bin Malik Al-Anshari, pembantu Rasulullah SAW.
Dr Abdurrahman Ra’at Basya dalam bukunya berjudul "Mereka adalah Para Tabi’in" menceritakan panglima perang Ibnu Muhallab beserta pasukannya bermarkas di Dihistan yang didiami oleh orang-orang Turki yang kuat dan perkasa.
Baca juga: Kisah Abu Sufyan bin Harits: Sepupu Nabi, 20 Tahun Memerangi Islam
Benteng-benteng mereka kokoh dan setiap hari menyerang kaum muslimin. Bila kepayahan atau merasa terdesak dalam pertempuran, mereka mundur ke lembah-lembah di daerah bergunung-gunung, lalu berlindung di balik bentengnya yang kokoh.
Meski kurus tubuhnya dan lanjut usianya, Muhammad bin Waasi’ memegang posisi yang cukup penting dalam pasukan Islam. Pasukan merasa terhibur oleh cahaya iman yang terpancar dari wajahnya yang cerah dan makin bersemangat bila mendengar nasihat-nasihat yang keluar dari lidahnya yang lembut serta menjadi tenang karena do’a-do’anya yang mustajab dalam kesulitan.