Eksploitasi, Keamanan, Kenyamanan dan Keselamatan Santri Jadi Tantangan di Pesantren
Tim langit 7
Jum'at, 24 Januari 2025 - 04:00 WIB
ilustrasi
A’wan PBNU Nyai Hj Badriyah Fayumi mengungkapkan, epistemologi pesantren sarat akan nilai. Pesantren memiliki konsep khidmah, berkah hingga pola pengasuhan 24 jam.
Tata nilai ini, kata Nyai Badriyah, selanjutnya menjadi landasan cara pandang serta cara berbuat bagi kalangan pesantren.
"Khidmah menjadi kurikulum hidup, tradisi ekospiritual yang terjaga di pesantren," ungkapnya. Akan tetapi jika potensi pesantren tersebut tak dikelola dengan baik, justru akan menimbulkan mudharat yang lebih besar.
Pengelola pesantren (pengasuh, pembina, pengurus) perlu melestarikan budaya luhur itu. Sebab itu, Nyai Badriyah menyarankan agar pola pengasuhan di pesantren dimaknai sebagai peran pengasuhan orang tua kandung.
“Tapi tantangan kita hari ini, ada oknum-oknum yang melakukan penyalahgunaan atas khidmah sehingga kemudian terjadi eksploitasi. Ini tantangan,” tegas Pengasuh Pondok Mahasina Darul Quran Wal Hadits Jatiwaringin, Bekasi itu.
Oleh karena itu, sambungnya, pengasuhan di pesantren itu parenting bukan fathering, sekalipun kebanyakan pengasuh pesantren itu laki-laki.
Dia menegaskan bahwa pesantren itu rumah kedua bagi santri. Para santri membutuhkan ayah dan ibu di pesantren dalam wujud pengasuh, pembina, dan pengurus.
Tata nilai ini, kata Nyai Badriyah, selanjutnya menjadi landasan cara pandang serta cara berbuat bagi kalangan pesantren.
"Khidmah menjadi kurikulum hidup, tradisi ekospiritual yang terjaga di pesantren," ungkapnya. Akan tetapi jika potensi pesantren tersebut tak dikelola dengan baik, justru akan menimbulkan mudharat yang lebih besar.
Pengelola pesantren (pengasuh, pembina, pengurus) perlu melestarikan budaya luhur itu. Sebab itu, Nyai Badriyah menyarankan agar pola pengasuhan di pesantren dimaknai sebagai peran pengasuhan orang tua kandung.
“Tapi tantangan kita hari ini, ada oknum-oknum yang melakukan penyalahgunaan atas khidmah sehingga kemudian terjadi eksploitasi. Ini tantangan,” tegas Pengasuh Pondok Mahasina Darul Quran Wal Hadits Jatiwaringin, Bekasi itu.
Oleh karena itu, sambungnya, pengasuhan di pesantren itu parenting bukan fathering, sekalipun kebanyakan pengasuh pesantren itu laki-laki.
Dia menegaskan bahwa pesantren itu rumah kedua bagi santri. Para santri membutuhkan ayah dan ibu di pesantren dalam wujud pengasuh, pembina, dan pengurus.