Wapres Sebut Indonesia Berpeluang jadi Pemain Utama Keuangan Syariah
Garry Talentedo Kesawa
Rabu, 22 September 2021 - 17:16 WIB
Wakil Presiden K.H. Maruf Amin. (foto: Humas Kominfo)
Sektor industri produk halal terus memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional selama pandemi Covid-19. Potensi industri halal tersebut diimbangi dengan potensi industri keuangan syariah nasional yang tak kalah besar.
Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin, menjelaskan berdasarkan laporan Islamic Finance Development Indicators (IFDI) 2020, Indonesia masuk lima besar negara dari 135 negara berdasarkan nilai asetnya yang mencapai USD3 miliar, di bawah Arab Saudi (USD17 miliar), Iran (USD14 miliar), Malaysia (USD10 miliar), dan Persatuan Emirat Arab (USD3 miliar).
"Mengingat besarnya potensi Indonesia, saya yakin bahwa posisi Indonesia sekarang ini masih sangat mungkin untuk meningkat lagi, bahkan menjadi pemain utama industri keuangan syariah dunia," kata Ma'ruf Amin dalam sambutannya secara virtual di acara Indonesia Sharia Summit 2021, Rabu (22/9).
Baca juga:Perhatian Besar Pemerintah terhadap Perbankan Syariah Tanah Air, Ini Buktinya
Dalam kesempatan itu, Wapres menjelaskan potensi-potensi di sektor industri halal. Menurut data Bank Indonesia, pertumbuhan rantai nilai halal/halal value chain (HVC) untuk produk fesyen muslim dan kosmetik halal meningkat.
"Bahkan pertumbuhan sektor pertanian dan makanan halal, sebagai pendukung utama HVC, berada di atas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional. Nilai ekspor bahan makanan halal Indonesia juga mengalami peningkatan, dari sekitar USD30 miliar pada 2019 menjadi sekitar USD34 miliar pada 2020," jelas Wapres.
Atas hal tersebut, Ma'ruf menyebut pemerintah bersama Bank Indonesia serta Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menyiapkan inisiatif-inisiatif strategis yang sedang dikembangkan dalam penguatan HVC.
Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin, menjelaskan berdasarkan laporan Islamic Finance Development Indicators (IFDI) 2020, Indonesia masuk lima besar negara dari 135 negara berdasarkan nilai asetnya yang mencapai USD3 miliar, di bawah Arab Saudi (USD17 miliar), Iran (USD14 miliar), Malaysia (USD10 miliar), dan Persatuan Emirat Arab (USD3 miliar).
"Mengingat besarnya potensi Indonesia, saya yakin bahwa posisi Indonesia sekarang ini masih sangat mungkin untuk meningkat lagi, bahkan menjadi pemain utama industri keuangan syariah dunia," kata Ma'ruf Amin dalam sambutannya secara virtual di acara Indonesia Sharia Summit 2021, Rabu (22/9).
Baca juga:Perhatian Besar Pemerintah terhadap Perbankan Syariah Tanah Air, Ini Buktinya
Dalam kesempatan itu, Wapres menjelaskan potensi-potensi di sektor industri halal. Menurut data Bank Indonesia, pertumbuhan rantai nilai halal/halal value chain (HVC) untuk produk fesyen muslim dan kosmetik halal meningkat.
"Bahkan pertumbuhan sektor pertanian dan makanan halal, sebagai pendukung utama HVC, berada di atas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional. Nilai ekspor bahan makanan halal Indonesia juga mengalami peningkatan, dari sekitar USD30 miliar pada 2019 menjadi sekitar USD34 miliar pada 2020," jelas Wapres.
Atas hal tersebut, Ma'ruf menyebut pemerintah bersama Bank Indonesia serta Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menyiapkan inisiatif-inisiatif strategis yang sedang dikembangkan dalam penguatan HVC.