LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah menaruh perhatian besar terhadap perkembangan perbankan syariah di Tanah Air melalui empat hal utama. Pertama, pemerintah fokus terhadap peningkatan pengembangan industri halal.
Hal tersebut disampaikan Direktur BCA Syariah Pranata Nazamuddin dalam webinar Langit7 bertajuk Potensi Besar Konsumen Muslim yang Belum Digarap Maksimal, Rabu (22/9/2021). "Kedua, pemerintah terus memperkuat sektor keuangan syariah, ketiga keuangan sosial syariah, dan keempat perkembangan kewirausahaan syariah," kata Pranata.
Baca Juga: Yuswohady: Produk Muslim Justru Kian Diminati di Tengah PandemiDi antara langkah konkritnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan peluang bertumbuhnya keuangan berbasis syariah. OJK terus memberikan insentif-insentif bagi perbankan dan lembaga-lembaga keuangan untuk mempermudah kalangan industri, kemudian investasi di bidang infrastruktur dan jasa.
"Nah, OJK telah membuat tiga pilar dalam
roadmap-nya. Pilar pertama, mendorong perbankan agar memiliki permodalan yang kuat, memiliki daya saing yang tinggi, dan memiliki keunikan-keunikan dibanding produk syariah lainnya," katanya.
Pilar kedua, pemerintah melalui OJK meningkatkan dan memperbesar keuangan syariah dengan menguatkan ekosistem. Dan pilar ketiga, yaitu penguatan dengan regulasi. Ia bersyukur dengan tiga pilar tersebut dan sejak berdirinya BCA Syariah dari tahun 2010 mengalami peningkatan di kisaran 27 persen.
Baca Juga: Pasar Muslim Berkembang Pesat di Indonesia, Ini Pemicunya Menurut Yuswohady"Berbicara syariah, satu sisi masyarakat ingin bertransaksi dengan perbankan syariah ya, namun dari sisi rasional juga harus didukung, jangan sampai ingin syariah kok lebih mahal dan lebih ribet, tentunya ini merupakan PR yang ada di kita ya. Emotional bonding dan keunikan produk ini menjadi nilai lebih," ujar dia.
Namun beberapa kelemahan yang harus dikejar di antaranya cakupan area, layanan mesin ATM dan EDC, dan kantor cabang di setiap provinsi. Karenanya, ke depan BCA Syariah akan melakukan sinergi dengan BCA untuk memanfaatkan jaringan dan melengkapi layanan-layanan yang sama bahkan lebih dengan BCA.
Mengutip laman resmi OJK,berbagai macam isu strategis yang dihadapi dan berdampak terhadap pengembangan perbankan syariah nasional mesti menjadi perhatian para pemangku kepentingan.Isu-isu strategis dimaksud adalah sebagai berikut. Pertama, belum selarasnya visi dan kurangnya koordinasi antar pemerintah dan otoritas dalam pengembangan perbankan syariah. Kedua, modal yang belum memadai, skala industri dan individual bank yang masih kecil serta efisiensi yang rendah.
Baca Juga: Muhammadiyah Andalkan Mukidi untuk Bangkitan Produk-Produk HalalKetiga, biaya dana yang mahal yang berdampak pada keterbatasan segmen pembiayaan. Keempat, produk yang tidak variatif dan pelayanan yang belum sesuai ekspektasi masyarakat. Kelima, kuantitas dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum memadai serta teknologi informasi (TI) yang belum dapat mendukung pengembangan produk dan layanan. Keenam, pemahaman dan kesadaran masyarakat yang masih rendah. Dan ketujuh, Pengaturan dan pengawasan yang masih belum optimal.
Baca Juga:
Webinar Langit7.id: Masjid yang Makmur adalah Masjid yang Jadi Basis Dakwah Menolong Ummat
Rahasia Sukses Jogokariyan: Didik Anak dan Remaja Jadi Penggerak Masjid(asf)