LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar Marketing dari Inventure, Yuswohady, mengatakan, pasar muslim mulai berkembang di Indonesia sejak keran demokrasi dibuka pada tahun 80-an. Kebebasan berekspresi di tengah masyarakat memunculkan kreativitas, gerakan, dan tren yang memicu revolusi pasar muslim.
Yuswohady mengidentifikasi, pasar muslim
booming di tengah masyarakat pada 2009-2010 yang ditandai dengan gerakan revolusi hijab. Pada 2000-an, hijab di Indonesia masih langka. Sangat susah mendapat wanita berhijab di tempat umum.
“Tetapi, pada 2000-an, pertengahan mulai dari 2005 hingga puncak pada 2010, tiba-tiba kaum muslim berhijab,” kata Yuswohady dalam webinar LANGIT7.ID, Rabu (22/9/2021).
Gerakan hijab ini berimplikasi pada kosmetik halal. Kosmetik harus disesuaikan dengan hijab, sehingga muncul kategori baru yakni kosmetik halal. Ada banyak perusahaan kosmetik yang menikmati gelombang gerakan tersebut.
Pemicu Pasar Muslim Kian DiminatiYuswohady menjabarkan pasar muslim kian diminati masyarakat sejak 2010. Dalam ilmu
marketing, kebutuhan awalnya cuma ada dua aspek yakni kebutuhan fungsional (
functional benefit) dan kebutuhan emosional (
emotional benefit).
Functional benefit adalah kondisi seseorang membeli karena butuh dan melihat fungsi dari suatu produk. Berbeda dengan emotional
benefit, seseorang membeli produk berdasarkan gaya hidup.
“Namun di pasar muslim, sejak 2010 muncul yang ketiga yakni
Spiritual benefit (kebutuhan spiritual), di mana konsumen itu butuh muatan spiritual di dalam produk yang dia konsumsi, atau produk itu cerminan dari kepatuhan dari ajaran nabi, ajaran Qur’an,” tutur Yuswohady.
Maka tak heran jika saat ini hijab membanjiri pasar di Indonesia. Ketertarikan terhadap Islam semakin lama kian diinginkan oleh konsumen Indonesia. Konsumen saat ini tidak hanya mencari nilai yang bersifat duniawi, tapi mereka mengkonsumsi produk karena aspek ukhrawi.
“Dari hari ke hari, spiritual
value ini semakin penting. Konsumen semakin yang menginginkan bahwa produk itu memberikan spiritual
value,” kata Yuswohady.
Yuswohady menyebut ada 11 industri yang terkena dampak positif dari kemunculan spiritual
value tersebut. Mulai dari makanan halal, kosmetik halal, hijab, hotel syariah, emas, investasi syariah, bank syariah, hingga asuransi syariah.
“Termasuk produk-produk kultural, misalnya acara TV, misalnya sinetron, dulu pada awal-awal 90-an tidak ada sinetron bertema Islam, tapi sekarang ini sinetron bertema Islam hampir tiap hari kita saksikan,” tutur Yuswohady.
(jqf)