LANGIT7.ID, Yogyakarta - Kebanyakan masjid belum menjadi tempat yang ramah anak. Hanya karena anak-anak bermain di masjid, banyak pengurus masjid mengusir anak-anak atau bahkan melarangnya beraktivitas di masjid.
Namun berbeda dengan Masjid Jogokariyan. Masjid yang terkenal berhasil memberdayakan umat ini berhasil menjadikan masjid sebagai tempat yang ramah anak. Bahkan menjadikan anak-anak sebagai penggerak aktivitas masjid.
Baca Juga: Tak Hanya Modal Usaha, Jogokariyan Juga Sebar Beasiswa untuk WargaMasjid Jogokariyan mulai dibangun pada 22 September 1966. Setahun kemudian, masjid Jogokariyan sudah mengadakan shalat jumat pertama. Pada saat itu, hanya sedikit masyarakat yang mau datang ke masjid. Tidak heran, kondisi Tanah Air pada masa itu masih diwarnai G30S PKI. Masyarakat masih memiliki ketakutan untuk datang ke masjid.
Namun menariknya, pada saat mengadakan shalat jumat pertama, Masjid Jogokariyan hanya diisi kebanyakan oleh anak-anak. Hal itu yang dilihat pengurus masjid sebagai peluang penting.
“Di hari berikutnya, kegiatan intinya pembinaan anak-anak, karena tidak mudah mengajak orang dewasa dan orang tua datang ke masjid, apalagi trauma tragedi politik dirasakan membelah umat dan warga di kampung Jogokariyan,” Terang Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, Ustadz Muhammad Jazir dalam Webinar Langit7.id, Senin (30/8/2021).
Termasuk Ustadz Jazir sendiri, saat pertama Masjid Jogokariyan berdiri masih berusia remaja. Ia bersama kakaknya, didik Sang Ayah Haji Amin Said untuk aktif menjadi penggerak Masjid Jogokariyan.
Terobosan tersebut ternyata berhasil. Bisa disaksikan hari ini, pengurus masjid didominasi oleh anak-anak dan remaja. Mereka aktif melakukan kegiatan-kegiatan untuk menebar manfaat ke masyarakat luas, terutama masyarakat yang tinggal di sekitar masjid.
“Alhamdulillah masjid ini tumbuh dengan dominasi kegiatan anak-anak dan remaja. Masjid ini aktivitasnya dijiwai anak-anak dan remaja, jadi masjid yang relatif kreatif, karena dominasi orang tua sedikit,” kata Ustadz Jazir.
Salah satu terobosan kreatif anak-anak muda ini adalah menyediakan sarapan untuk jamaah shalat subuh. Cara itu bisa menarik masyarakat untuk datang ke masjid shalat berjamaah. Belum lagi kegiatan-kegiatan sosial lain, yang membuat Jogokariyan tak pernah sepi dan sunyi.
“Gerakan shalat berjamaah di masjid. Kami buat jamaah ke masjid menyenangkan, ada kopi susu dan snack supaya jamaah subuh, lalu bisa ngopi bersama sambil dengar ceramah subuh tentang keutamaan shalat berjamaah. Jamaah subuh 20 persen, 2010 sampai 50 persen, dan 2015 75 persen untuk jumatan. 100 persen. Berat tapi akan kita upayakan,” kata Ustadz Jazir.
Anak-anak Masjid Jogokariyan ini dihimpun dalam satu wadah bernama Himpunan Anak-anak Masjid (Hamas) Jogokariyan.
Bahkan beberapa waktu lalu, Hamas Jogokariyan membuat satu gebrakan yakni menggalang dana untuk pembelian kapal selam pengganti KRI Nanggala-402 yang mengalami kecelakaan, serta uang duka untuk keluarga para prajurit yang gugur. Dana tersebut diserahkan kepada Pangkalan TNI AL Yogyakarta serta keluarga korban.
(jqf)