Sorogan dan Bandongan, Metode Belajar Ala Pesantren Tradisional
Muhajirin
Senin, 12 Juli 2021 - 16:04 WIB
Metode Sorogan atau Talaqqi, santri belajar langsung berhadapan dengan Kiai yang marak diterapkan di pesantren tradisional (foto: Langit7.id/istock)
Pesantren berbeda dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Di pesantren, para santri tinggal bersama Kiai atau Guru dalam suatu kompleks tertentu. Sekarang sangat banyak di Indonesia. Hampir di setiap daerah ada. Pesantren memiliki ciri khas tersendiri seperti hubungan akrab antara Kiai dan santri sampai pada metode pembelajaran.
Jika melihat dari sejarah, pesantren di Indonesia pertama kali ditemukan pada karya-karya Jawa Klasik Serat Cabolek dan Serat Centhini yang berasal dari abad ke-16. Dari situ diketahui bahwa pesantren mengajarkan berbagai kitab klasik dalam bidang fikih, teologi, dan tasawuf serta menjadi pusat penyiaran agama Islam. Bahkan, pada masa penjajahan, pesantren menjadi salah satu tempat lahir para pejuang kemerdekaan.
Berdasarkan data Kementerian Agama tahun 1984-1985, jumlah pesantren di abad ke-16 sebanyak 613 pesantren. Menurut laporan Pemerintah Hindia Belanda diketahui bahwa pada tahun 1783 di Indonesia terdapat 1.863 lembaga pendidikan Islam tradisional. Van den Berg mengadakan penelitian di tahun 1885 dan hasilnya terdapat 14.929 lembaga pendidikan Islam dengan 300 diantaranya merupakan pesantren.
Nah, pondok pesantren tradisional mempunyai metode tersendiri dalam mengajarkan agama Islamkepada santri, yaitu metode sorogan dan bandongan. Kedua istilah ini sangat populer di kalangan pesantren, terutama yang masih menggunakan kitab kuning sebagai sarana pembelajaran utama. Kedua metode itu digunakan santri untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam melalui kitab kuning.
Secara bahasa, sorogan berasal dari kata Jawa sorog, yang artinya menyodorkan. Dengan metode ini, berarti santri dapat menyodorkan materi yang ingin dipelajari untuk mendapatkan bimbingan secara individual atau secara khusus.
(Metode Bandongan atau Klasikal yang banyak diterapkan di pesantren tradisional. Foto: Langit7.id/istock)
Sementara bandongan adalah metode transfer keilmuan atau proses belajar-mengajar di pesantren yang khusus mengajarkan kitab kuning. Kiai membacakan, menerjemahkan, dan menerangkan kepada santri. Santri mendengarkan, menyimak, dan mencatat apa yang disampaikan oleh kiai.
Jika melihat dari sejarah, pesantren di Indonesia pertama kali ditemukan pada karya-karya Jawa Klasik Serat Cabolek dan Serat Centhini yang berasal dari abad ke-16. Dari situ diketahui bahwa pesantren mengajarkan berbagai kitab klasik dalam bidang fikih, teologi, dan tasawuf serta menjadi pusat penyiaran agama Islam. Bahkan, pada masa penjajahan, pesantren menjadi salah satu tempat lahir para pejuang kemerdekaan.
Berdasarkan data Kementerian Agama tahun 1984-1985, jumlah pesantren di abad ke-16 sebanyak 613 pesantren. Menurut laporan Pemerintah Hindia Belanda diketahui bahwa pada tahun 1783 di Indonesia terdapat 1.863 lembaga pendidikan Islam tradisional. Van den Berg mengadakan penelitian di tahun 1885 dan hasilnya terdapat 14.929 lembaga pendidikan Islam dengan 300 diantaranya merupakan pesantren.
Nah, pondok pesantren tradisional mempunyai metode tersendiri dalam mengajarkan agama Islamkepada santri, yaitu metode sorogan dan bandongan. Kedua istilah ini sangat populer di kalangan pesantren, terutama yang masih menggunakan kitab kuning sebagai sarana pembelajaran utama. Kedua metode itu digunakan santri untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam melalui kitab kuning.
Secara bahasa, sorogan berasal dari kata Jawa sorog, yang artinya menyodorkan. Dengan metode ini, berarti santri dapat menyodorkan materi yang ingin dipelajari untuk mendapatkan bimbingan secara individual atau secara khusus.
(Metode Bandongan atau Klasikal yang banyak diterapkan di pesantren tradisional. Foto: Langit7.id/istock)
Sementara bandongan adalah metode transfer keilmuan atau proses belajar-mengajar di pesantren yang khusus mengajarkan kitab kuning. Kiai membacakan, menerjemahkan, dan menerangkan kepada santri. Santri mendengarkan, menyimak, dan mencatat apa yang disampaikan oleh kiai.