LANGIT7.ID - Pesantren berbeda dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Di pesantren, para santri tinggal bersama Kiai atau Guru dalam suatu kompleks tertentu. Sekarang sangat banyak di Indonesia. Hampir di setiap daerah ada. Pesantren memiliki ciri khas tersendiri seperti hubungan akrab antara Kiai dan santri sampai pada metode pembelajaran.
Jika melihat dari sejarah, pesantren di Indonesia pertama kali ditemukan pada karya-karya Jawa Klasik Serat Cabolek dan Serat Centhini yang berasal dari abad ke-16. Dari situ diketahui bahwa pesantren mengajarkan berbagai kitab klasik dalam bidang fikih, teologi, dan tasawuf serta menjadi pusat penyiaran agama Islam. Bahkan, pada masa penjajahan, pesantren menjadi salah satu tempat lahir para pejuang kemerdekaan.
Berdasarkan data Kementerian Agama tahun 1984-1985, jumlah pesantren di abad ke-16 sebanyak 613 pesantren. Menurut laporan Pemerintah Hindia Belanda diketahui bahwa pada tahun 1783 di Indonesia terdapat 1.863 lembaga pendidikan Islam tradisional. Van den Berg mengadakan penelitian di tahun 1885 dan hasilnya terdapat 14.929 lembaga pendidikan Islam dengan 300 diantaranya merupakan pesantren.
Nah, pondok pesantren tradisional mempunyai metode tersendiri dalam mengajarkan agama Islam kepada santri, yaitu metode
sorogan dan
bandongan. Kedua istilah ini sangat populer di kalangan pesantren, terutama yang masih menggunakan kitab kuning sebagai sarana pembelajaran utama. Kedua metode itu digunakan santri untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam melalui kitab kuning.
Secara bahasa,
sorogan berasal dari kata Jawa
sorog, yang artinya menyodorkan. Dengan metode ini, berarti santri dapat menyodorkan materi yang ingin dipelajari untuk mendapatkan bimbingan secara individual atau secara khusus.
![Sorogan dan Bandongan, Metode Belajar Ala Pesantren Tradisional]()
(Metode Bandongan atau Klasikal yang banyak diterapkan di pesantren tradisional. Foto: Langit7.id/istock)
Sementara
bandongan adalah metode transfer keilmuan atau proses belajar-mengajar di pesantren yang khusus mengajarkan kitab kuning. Kiai membacakan, menerjemahkan, dan menerangkan kepada santri. Santri mendengarkan, menyimak, dan mencatat apa yang disampaikan oleh kiai.
Istilah
bandongan berasal dari bahasa Sunda
ngabandungan yang berarti memperhatikan secara saksama atau menyimak. Dengan metode ini, para santri akan belajar dengan menyimak secara kolektif. Namun, dalam bahasa Jawa, bandongan disebutkan juga berasal dari kata
bandong, yang artinya pergi berbondong-bondong. Hal ini karena
bandongan dilangsungkan dengan peserta dalam jumlah yang relatif besar.
Kedua metode itu sebenarnya sama. Bedanya, metode
sorogan, jumlah santri sedikit, hanya 1-10 orang. Kemudian ada sesi di mana santri maju satu per satu menghadap guru untuk membaca kitab. Abu Bakar Aceh dikutip Ridwan Nasir dalam buku Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal: Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan pernah mengilustrasikan metode tersebut. Sorogan mirip-mirip
talaqqi. Kiai duduk dikelilingi para santri guru membacakan kitab, santri menyimak. Kiai menerangkan, santri mencatat.
Abu Bakar Aceh menggambarkan, dalam metode sorogan kiai dan santri relatif santai. Kiai duduk di atas sajadah dikelilingi santri. Para santri ada yang bersimpul, topang dagu, telungkup sesuka-sukanya mendengar sambil melihat kitab yang dibaca guru.
Kalau
Sorogan hanya diisi sedikit santri,
bandongan beda lagi.
Bandongan, jumlah santri bisa mencapai ratusan orang. Biasanya digelar di masjid pesantren. Tapi beda dengan ceramah umum atau
tabligh akbar. Bandongan fokus menelaah satu kitab. Mulai dari
nahwu, sharaf, balaghah, hingga kitab-kitab
tafsir, hadits, hingga
tarikh.
Kiai dan santri akan fokus menelaah satu kitab sampai selesai. Jika sudah tamat, pindah lagi ke kitab lain. begitu seterusnya. Itu yang membedakan dengan kajian umum atau majelis ilmu yang banyak digelar di masjid-masjid.
Penulis buku Tradisi Pesantren Zamakhsyari Dhofier mengatakan, dalam sistem
bandongan, santri terdiri dari 5 sampai 500 orang. Mereka mendengarkan seorang kiai yang membaca, menerjemahkan, menerangkan kitab-kitab kuning. Setiap santri memegang buku yang sama dan membuat catatan tentang kata-kata yang sulit.
Pada intinya, kedua metode ini memiliki tujuan yang sama. Proses transfer ilmu dari Kiai ke santri secara mendalam. Dalam perkembangannya, santri diajak mengembangkan nalar kritis santri dalam sesi tanya jawab.
Bagi telinga orang luar Jawa, mungkin kedua istilah ini asing. Tapi pesantren-pesantren di Sulawesi sampai Kalimantan memiliki metode yang sama. Hanya beda istilah. Metode sama. Bahkan tak hanya di pesantren, metode ini sudah diterapkan di rumah-rumah
tahfidz yang saat ini memiliki perkembangan sangat pesat. Rumah
tahfidz biasanya lebih nyaman menggunakan istilah
talaqqi dan
halaqah. Dua istilah yang berasal dari Bahasa Arab.
(jqf)