Makna Instrumental Salat: Pengalaman akan Kehadiran Tuhan
Miftah yusufpati
Sabtu, 08 Februari 2025 - 17:07 WIB
Jika salat itu tidak menghasilkan budi pekerti luhur maka ia sebagai instrumen akan sia-sia belaka. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Cendekiawan muslim, Prof Dr Nurcholish Madjid (1939-2005) atau populer dipanggil Cak Nur, mengatakan salat disebut bermakna intrinsik (makna dalam dirinya sendiri), karena ia merupakan tujuan pada dirinya sendiri, khususnya salat sebagai peristiwa menghadap Allah dan berkomunikasi dengan Dia, baik melalui bacaan, maupun melalui tingkah laku (khususnya ruku' dan sujud).
"Dan salat disebut bermakna instrumental, karena ia dapat dipandang sebagai sarana untuk mencapai sesuatu di luar dirinya sendiri," tulis Cak Nur dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah"
Menurutnya, adanya makna instrumental salat itu sangat logis, justru sebagai konsekuensi makna intrinsiknya juga. Yaitu, jika seseorang dengan penuh kesungguhan dan keinsyafan menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup kesehariannya, maka tentu dapat diharap bahwa keinsyafan itu akan mempunyai dampak pada tingkah laku dan pekertinya, yang tidak lain daripada dampak kebaikan.
Meskipun pengalaman akan kehadiran Tuhan itu merupakan kebahagiaan tersendiri yang tak terlukiskan dalam kata-kata, namun tidak kurang pentingnya ialah perwujudan keluarnya dalam tindakan sehari-hari berupa perilaku berbudi pekerti luhur, sejiwa dalam perkenan atau rida Tuhan.
Baca juga: Makna Intrinsik Bacaan Surat Al-Fatihah dalam Salat
Inilah makna instrumental salat, yang jika salat itu tidak menghasilkan budi pekerti luhur maka ia sebagai "instrumen" akan sia-sia belaka.
"Dan salat disebut bermakna instrumental, karena ia dapat dipandang sebagai sarana untuk mencapai sesuatu di luar dirinya sendiri," tulis Cak Nur dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah"
Menurutnya, adanya makna instrumental salat itu sangat logis, justru sebagai konsekuensi makna intrinsiknya juga. Yaitu, jika seseorang dengan penuh kesungguhan dan keinsyafan menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup kesehariannya, maka tentu dapat diharap bahwa keinsyafan itu akan mempunyai dampak pada tingkah laku dan pekertinya, yang tidak lain daripada dampak kebaikan.
Meskipun pengalaman akan kehadiran Tuhan itu merupakan kebahagiaan tersendiri yang tak terlukiskan dalam kata-kata, namun tidak kurang pentingnya ialah perwujudan keluarnya dalam tindakan sehari-hari berupa perilaku berbudi pekerti luhur, sejiwa dalam perkenan atau rida Tuhan.
Baca juga: Makna Intrinsik Bacaan Surat Al-Fatihah dalam Salat
Inilah makna instrumental salat, yang jika salat itu tidak menghasilkan budi pekerti luhur maka ia sebagai "instrumen" akan sia-sia belaka.