home masjid

Amalan Nisfu Sya'ban Menurut NU, Muhammadiyah, dan Salafi

Jum'at, 14 Februari 2025 - 16:16 WIB
Hadis-hadis lemah bisa diamalkan dalam ibadah jika asalnya didukung oleh hadis-hadis shahih. Ilustrasi: Pinterest
LANGIT7.ID--Setiap tahun, umat Islam memperingati malam Nisfu Syaban dengan berbagai ibadah. Malam ini diyakini sebagai salah satu waktu yang penuh keberkahan. Namun, pemahaman mengenai keutamaan dan amalan yang dianjurkan pada malam tersebut sering kali menjadi perdebatan di kalangan ulama. Lalu bagaimana pendapat Muhammadiyah, NU dan Salafi terkait amalan Nisfu Sya'ban?

Muhammadiyah: Tidak Ada Ibadah Khusus

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Homaidi Hamid dalam Pengajian Tarjih pada Rabu (12/02) menjelaskan berbagai riwayat hadis yang beredar mengenai Nisfu Syaban perlu dikaji lebih dalam agar tidak terjebak dalam amalan yang tidak memiliki dasar yang kuat.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan terdapat dalam Sahih Al-Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tuhan kita, Tabaraka wa Ta’ala, turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.’”

Hadis ini menunjukkan bahwa waktu sepertiga malam terakhir adalah waktu yang mustajab untuk berdoa, memohon ampun, dan bermunajat kepada Allah. Berdasarkan hadis ini, kata Homaidi Hamid, turun-Nya Allah ke langit dunia pada setiap malam, termasuk di malam Nisfu Syaban, merupakan suatu kepastian.

Namun, Homaidi Hamid menjelaskan bahwa bagaimana hakikat turunnya Allah tidak dapat dipahami oleh akal manusia. Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah menerima hadis ini sebagaimana adanya, tanpa menanyakan bagaimana bentuk turunnya, karena sifat Allah tidak dapat disamakan dengan makhluk-Nya.

Berita Lainnya