Pertama Kali dalam Sejarah NU, Munas Alim Ulama Digelar Saat Wabah
Muhajirin
Jum'at, 24 September 2021 - 10:03 WIB
Logo Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2021 (foto: istimewa)
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama pada 25-26 September secara luring di Hotel Grand Sahid Jakarta. Acara itu merupakan forum musyawarah tertinggi kedua setelah Muktamar dan menghadirkan para alim ulama dan warga Nahdliyin dari seluruh penjuru dunia.
Ketua Dewan Pengarah Munas-Konbes NU 2021, KH Ahmad Ishomuddin, mengatakan, Munas-Konbes tahun ini sangat bersejarah karena diadakan dalam kondisi wabah, sehingga forum akan digelar dengan protokol kesehatan ketat dan terbatas. Peserta Munas-Konbes tahun ini dibatasi hanya 250 pengurus dan warga Nahdliyin.
“Ini baru pertama dalam sejarah kita. Pertemuan alim ulama dilakukan ketika wabah. Tapi, Alhamdulillah kasus sudah menurun dan kami akan protokol kesehatan dengan sangat ketat,” kata KH Ishomuddin dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (23/9/2021).
KH Ishomuddin mengatakan, dalam pertemuan tersebut, PBNU akan membahas banyak hal. Namun pembahasan akan menitikberatkan pada masalah negara dan bangsa terkini. Mulai dari urusan keumatan seperti dakwah digital, isu tematik, maupun masalah-masalah hukum terkini.
Dalam pelaksanaan Munas, akan ada sembilan pembahasan dari tiga kategori persoalan terkait keagamaan. Pertama,Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Waqi’iyyahyang akan membahas persoalan agama aktual yang mencakup hukum gelatin, daging berbasis sel, dan hukumcryptocurrency.
Kedua,Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Maudlu’iyyahyang membahas masalah keagamaan tematik seputar moderatisme NU dalam berpolitik, metodeistinbath maqashidi, dan pandangan Islam terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
TerkaitCarbon TaxdanCarbon Trading, KoordinatorSteering Committee(SC) KH Ahmad Ishomuddin menjelaskan, persoalan tersebut didasarkan pada penerapan pajak karbon dalam Rancangan Undang-Undang Ketentuan dan Tata Cara Umum Perpajakan (RUU KUP) yang menuai pro dan kontra di masyarakat.
Ketua Dewan Pengarah Munas-Konbes NU 2021, KH Ahmad Ishomuddin, mengatakan, Munas-Konbes tahun ini sangat bersejarah karena diadakan dalam kondisi wabah, sehingga forum akan digelar dengan protokol kesehatan ketat dan terbatas. Peserta Munas-Konbes tahun ini dibatasi hanya 250 pengurus dan warga Nahdliyin.
“Ini baru pertama dalam sejarah kita. Pertemuan alim ulama dilakukan ketika wabah. Tapi, Alhamdulillah kasus sudah menurun dan kami akan protokol kesehatan dengan sangat ketat,” kata KH Ishomuddin dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (23/9/2021).
KH Ishomuddin mengatakan, dalam pertemuan tersebut, PBNU akan membahas banyak hal. Namun pembahasan akan menitikberatkan pada masalah negara dan bangsa terkini. Mulai dari urusan keumatan seperti dakwah digital, isu tematik, maupun masalah-masalah hukum terkini.
Dalam pelaksanaan Munas, akan ada sembilan pembahasan dari tiga kategori persoalan terkait keagamaan. Pertama,Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Waqi’iyyahyang akan membahas persoalan agama aktual yang mencakup hukum gelatin, daging berbasis sel, dan hukumcryptocurrency.
Kedua,Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Maudlu’iyyahyang membahas masalah keagamaan tematik seputar moderatisme NU dalam berpolitik, metodeistinbath maqashidi, dan pandangan Islam terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
TerkaitCarbon TaxdanCarbon Trading, KoordinatorSteering Committee(SC) KH Ahmad Ishomuddin menjelaskan, persoalan tersebut didasarkan pada penerapan pajak karbon dalam Rancangan Undang-Undang Ketentuan dan Tata Cara Umum Perpajakan (RUU KUP) yang menuai pro dan kontra di masyarakat.