Plus-minus Ilmu Kalam: Ketika Al-Asy'ari Memelopori Jenis yang Anti-Muktazilah
Miftah yusufpati
Jum'at, 07 Maret 2025 - 05:00 WIB
Pengetahuan tentang Tuhan diperoleh manusia melalui fitrah-nya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID | Pada awalnya, Ilmu Kalam menjadi monopoli kaum Muktazilah. Namun dalam perkembangan selanjutnya, tidak demikian. al-Asy'ari (260-324 H/873-935 M) yang pada mulanya tokoh Muktazilah justru memelopori suatu jenis Ilmu Kalam yang anti Muktazilah.
Abu al-Hasan al-Asy'ari (260-324 H/873-935 M) adalah seorang sarjana dari kota Basrah di Irak. Ia terdidik dalam alam pikiran Muktazilah (dan kota Basrah memang pusat pemikiran Muktazili).
Akan tetapi kemudian pada usia 40 tahun ia meninggalkan paham Muktazilinya, dan justru mempelopori suatu jenis Ilmu Kalam yang anti Mu'tazilah.
Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. (17 Maret 1939 – 29 Agustus 2005) atau populer dipanggil Cak Nur dalam buku "Islam dan Peradaban" menjelaskan ilmu Kalam al-Asy'ar'i itu, yang juga sering disebut sebagai paham Asy'ariyyah, kemudian tumbuh dan berkembang untuk menjadi Ilmu Kalam yang paling berpengaruh dalam Islam sampai sekarang, karena dianggap paling sah menurut pandangan sebagian besar kaum Sunni.
Kebanyakan mereka ini kemudian menegaskan bahwa "jalan keselamatan" hanya didapatkan seseorang yang dalam masalah Kalam menganut al-Asy'ari.
Seorang pemikir lain yang Ilmu Kalam-nya mendapat pengakuan sama dengan al-Asy'ari ialah Abu Manshur al-Maturidi (wafat di Samarkand pada 333 H/944 M).
Baca juga: Peranan Kaum Khawarij dan Muktazilah dalam Ilmu Kalam
Abu al-Hasan al-Asy'ari (260-324 H/873-935 M) adalah seorang sarjana dari kota Basrah di Irak. Ia terdidik dalam alam pikiran Muktazilah (dan kota Basrah memang pusat pemikiran Muktazili).
Akan tetapi kemudian pada usia 40 tahun ia meninggalkan paham Muktazilinya, dan justru mempelopori suatu jenis Ilmu Kalam yang anti Mu'tazilah.
Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. (17 Maret 1939 – 29 Agustus 2005) atau populer dipanggil Cak Nur dalam buku "Islam dan Peradaban" menjelaskan ilmu Kalam al-Asy'ar'i itu, yang juga sering disebut sebagai paham Asy'ariyyah, kemudian tumbuh dan berkembang untuk menjadi Ilmu Kalam yang paling berpengaruh dalam Islam sampai sekarang, karena dianggap paling sah menurut pandangan sebagian besar kaum Sunni.
Kebanyakan mereka ini kemudian menegaskan bahwa "jalan keselamatan" hanya didapatkan seseorang yang dalam masalah Kalam menganut al-Asy'ari.
Seorang pemikir lain yang Ilmu Kalam-nya mendapat pengakuan sama dengan al-Asy'ari ialah Abu Manshur al-Maturidi (wafat di Samarkand pada 333 H/944 M).
Baca juga: Peranan Kaum Khawarij dan Muktazilah dalam Ilmu Kalam