home edukasi & pesantren

Redaksional Istigfar Rasulullah SAW dan Sayyidul istigfar

Jum'at, 21 Maret 2025 - 16:30 WIB
Wahai Rabb-ku ampunilah dosaku dan ampunilah atas apa yang aku telah dahulukan dan apa yang aku telah tunda. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID--Para nabi adalah orang yang amat berusaha keras untuk melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Karena mereka mengetahui hak-Nya atas mereka sehingga mereka terus bersyukur kepada Allah SWT, dan mengakui bahwa mereka selalu kurang sempurna dalam menjalankan apa yang diperintahkan Allah SWT kepada mereka.

Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin berkata: adalah Rasulullah SAW selalu meningkat derajat beliau. Dan setiap kali beliau menaiki suatu derajat maka beliau akan melihat derajat yang sebelumnya, dan beliau akan beristigfar atas derajat yang lebih rendah itu.

Al Muhasiby berkata: malaikat dan para nabi adalah orang yang lebih takut kepada Allah SWT dibandingkan orang yang lebih rendah derajatnya dari mereka. Dan takut mereka adalah sebuah takut penghormatan dan pemuliaan. Mereka beristigfar dari kekurangsempurnaan dalam menjalankan apa yang seharusnya, bukan karena dosa yang dilakukan.

Qadhi 'Iyadh mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Rabb-ku ampunilah dosaku dan ampunilah atas apa yang aku telah dahulukan dan apa yang aku telah tunda dapat dinilai sebagai sebuah ungkapan dari ketawadhu'an, ketundukan, sikap merendahkan diri, dan sebagai kesyukuran kepada Rabbnya, karena beliau tahu bahwa Allah SWT telah mengampuninya.

Baca juga: Istigfar: Kecepatan Dituntut dalam Meminta Magfirah

Redaksional Istigfar Rasulullah SAW

Syaikh Yusuf al Qardhawi dalam bukunya "at Taubat Ila Allah" (Maktabah Wahbah, 1998) mengatakan terdapat hadis sahih dari Rasulullah SAW tentang bentuk redaksional istigfar beliau yang tidak pernah digunakan oleh seorang nabi atau Rasul pun sebelum beliau, yaitu:
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya