Kisah Sufi Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani: Orang yang Waktunya Keliru
Miftah yusufpati
Kamis, 03 April 2025 - 05:15 WIB
Semenjak Abdul Qadir secara luas diagungkan sebagai orang suci, sejumlah riwayat mengenai kehidupannya beredar di Timur. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID--Kisah ini dinukil dari buku berjudul "Tales of The Dervishes" karya Idries Shah yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi".
Pada zaman dahulu, ada seorang saudagar kaya yang tinggal di Baghdad. Ia mempunyai sebuah rumah besar, tanah yang luas dan sempit, dan puluhan kapal yang berlayar ke Hindia mengangkut berbagai muatan berharga. Ia telah mendapatkan kekayaan tersebut lewat warisan, kerja keras, keberuntungan, dan juga atas nasihat baik dan petunjuk dari Raja Negeri Barat, demikianlah Sultan Cordoba disebut pada masa itu.
Kemudian, masalah terjadi. Seorang penindas lalim merampas tanah dan rumah-rumah miliknya. Kapal-kapalnya yang sedang berlayar ke Hindia dihempas badai; bencana menimpa keluarganya dan rumahnya yang besar itu. Bahkan, teman-teman terdekatnya tampak kehilangan kuasa untuk tetap menjalin hubungan yang serasi dengannya, meskipun ia dan teman-temannya itu ingin membangun hubungan silaturahmi yang baik.
Saudagar itu pun memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Spanyol menemui bekas penasihatnya, dan berkelanalah ia melintasi Padang Pasir Barat. Selama dalam perjalanan, peristiwa demi peristiwa terjadi atasnya. Keledainya mati, ia di tangkap oleh para penyamun dan dijual sebagai budak, namun berhasil melarikan diri dengan susah payah; wajahnya terbakar matahari sampai melegam seperti kulit binatang; penduduk yang kasar mengusirnya pergi dari depan pintu rumah mereka. Di berbagai tempat ada saja seorang darwis yang memberinya sepotong roti dan kain untuk dikenakan. Kadang-kadang, ia bisa meneguk beberapa teguk air segar dari sebuah kolam, namun lebih sering didapatnya air payau.
Akhirnya, sampailah ia di pintu gerbang istana Raja Negeri Barat.
Baca juga: Kisah Sufi Syaih Ali Farmadhi: Orang yang Hidupnya Tak Terpahami
Di sana pun ia menghadapi kesulitan terbesar untuk bisa masuk ke istana. Para pengawal mendorongnya pergi menggunakan pangkal tombak, sebab pengurus istana menolak menemuinya. Ia terpaksa bekerja sebagai seorang pegawai kecil di istana sampai uang simpanannya cukup untuk membeli setelan pakaian yang layak dipakai ketika mendaftar pada Pengurus Rumah Tangga Kerajaan agar diperbolehkan menghadap Yang Mulia Raja.
Pada zaman dahulu, ada seorang saudagar kaya yang tinggal di Baghdad. Ia mempunyai sebuah rumah besar, tanah yang luas dan sempit, dan puluhan kapal yang berlayar ke Hindia mengangkut berbagai muatan berharga. Ia telah mendapatkan kekayaan tersebut lewat warisan, kerja keras, keberuntungan, dan juga atas nasihat baik dan petunjuk dari Raja Negeri Barat, demikianlah Sultan Cordoba disebut pada masa itu.
Kemudian, masalah terjadi. Seorang penindas lalim merampas tanah dan rumah-rumah miliknya. Kapal-kapalnya yang sedang berlayar ke Hindia dihempas badai; bencana menimpa keluarganya dan rumahnya yang besar itu. Bahkan, teman-teman terdekatnya tampak kehilangan kuasa untuk tetap menjalin hubungan yang serasi dengannya, meskipun ia dan teman-temannya itu ingin membangun hubungan silaturahmi yang baik.
Saudagar itu pun memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Spanyol menemui bekas penasihatnya, dan berkelanalah ia melintasi Padang Pasir Barat. Selama dalam perjalanan, peristiwa demi peristiwa terjadi atasnya. Keledainya mati, ia di tangkap oleh para penyamun dan dijual sebagai budak, namun berhasil melarikan diri dengan susah payah; wajahnya terbakar matahari sampai melegam seperti kulit binatang; penduduk yang kasar mengusirnya pergi dari depan pintu rumah mereka. Di berbagai tempat ada saja seorang darwis yang memberinya sepotong roti dan kain untuk dikenakan. Kadang-kadang, ia bisa meneguk beberapa teguk air segar dari sebuah kolam, namun lebih sering didapatnya air payau.
Akhirnya, sampailah ia di pintu gerbang istana Raja Negeri Barat.
Baca juga: Kisah Sufi Syaih Ali Farmadhi: Orang yang Hidupnya Tak Terpahami
Di sana pun ia menghadapi kesulitan terbesar untuk bisa masuk ke istana. Para pengawal mendorongnya pergi menggunakan pangkal tombak, sebab pengurus istana menolak menemuinya. Ia terpaksa bekerja sebagai seorang pegawai kecil di istana sampai uang simpanannya cukup untuk membeli setelan pakaian yang layak dipakai ketika mendaftar pada Pengurus Rumah Tangga Kerajaan agar diperbolehkan menghadap Yang Mulia Raja.