Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 08 Juni 2026
home global news detail berita

Nasib Rupiah Makin Mencemaskan: Sudah Tembus 18.250 per Dollar AS

tim langit 7 Senin, 08 Juni 2026 - 19:05 WIB
Nasib Rupiah Makin Mencemaskan: Sudah Tembus 18.250 per Dollar AS
LANGIT7.ID-Jakarta; Rupiah kembali masuk zona merah di awal pekan ini. Senin (8/6/2026), nilai tukar mata uang Garuda diperkirakan bergerak galau dan cenderung terperosok ke kisaran Rp17.950–Rp18.250 per dolar AS. Padahal Jumat pekan lalu, rupiah sempat menguat 0,19% ke Rp18.012—memberi harapan sesaat sebelum kenyataan pahit kembali menghantam. Sejak awal tahun 2026, rupiah sudah jeblok 8,01%. Ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa daya beli kita perlahan lumer diterjang dolar.

Di Asia, nasib rupiah tak sendiri. Yuan China dan yen Jepang masih bisa tersenyum dengan penguatan tipis. Tapi won Korea terpeleset 0,52%, baht Thailand melemah 0,06%, dan dolar Taiwan ikut turun 0,02%. Seluruh kawasan sedang bergumul dengan tekanan dolar AS yang tak kenal ampun. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut sentimen paling santer adalah serangan baru AS ke Iran Selatan—tepatnya ke lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau. Serangan ini membuyarkan harapan damai yang sempat merekah, membuat harga minyak jungkir balik. Turun tajam sesaat, tapi langsung tertahan karena ketidakpastian yang masih menggantung.

Tapi kalau hanya soal perang di Timur Tengah, mungkin rupiah masih bisa bernapas lega. Masalahnya, ada bom waktu lain yang jauh lebih dekat dan lebih membahayakan: mulai runtuhnya kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia sendiri. Ibrahim menyebut dengan gamblang bahwa kepercayaan itu kini retak—bukan karena isu asing, tapi karena kebijakan dan kondisi dalam negeri yang semakin terasa sakitnya oleh rakyat. Inilah bedanya kali ini. Pelemahan rupiah dulu mungkin masih terasa abstrak, sekadar angka di berita. Sekarang ia sudah merembet ke lantai pabrik dan meja makan.

Lonjakan PHK dalam sebulan terakhir menjadi alarm paling nyata. Bukan hanya karena rupiah lemah, tapi juga karena biaya produksi meledak. Bahan bakar minyak industri nonsubsidi ikut naik akibat konflik global, sementara bahan baku impor membengkak karena dolar mahal. Perusahaan kalang kabut. Efisiensi jadi alasan, tapi di balik itu ada kepala keluarga yang kehilangan penghasilan. Sektor-sektor yang selama ini menjadi tulang punggung lapangan kerja rakyat—elektronik, otomotif, serta tekstil, garmen, dan alas kaki—kini paling terpukul.

Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, dari Januari hingga April 2026 saja, sudah 15.425 orang terdampak PHK. Dan Ibrahim memperingatkan, dalam tiga bulan ke depan, potensi PHK di sektor formal bisa mencapai 9.000 pekerja tambahan. Itu bukan sekadar statistik. Itu adalah ribuan keluarga yang harus memutar otak untuk makan esok hari. Yang membuat situasi ini mencekam adalah lingkaran setan yang mulai terbentuk: rupiah lemah mendorong biaya impor dan produksi naik, perusahaan merugi, PHK besar-besaran terjadi, daya beli masyarakat ambruk, ekonomi melambat, dan pada akhirnya rupiah kian tertekan. Ini bukan drama satu babak. Ini adalah krisis yang merambat pelan tapi pasti.

Ibrahim menegaskan bahwa tekanan terhadap industri tidak hanya dipicu oleh pelemahan rupiah. Konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga BBM industri nonsubsidi yang turut menambah biaya produksi perusahaan. Dua pukulan sekaligus, tanpa jeda. Memang, banyak mata akan tertuju pada pergerakan rupiah besok—apakah tembus Rp18.250 atau berhasil bertahan. Tapi jangan lupa, di balik angka itu, ada industri yang roboh dan pekerja yang menangis. Perang AS-Iran mungkin suatu hari akan usai. Harga minyak mungkin akan stabil. Tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkan pabrik-pabrik yang sudah tutup dan kepercayaan yang sudah hancur. Rupiah bisa bangkit lagi, tapi PHK yang sudah terjadi tidak akan otomatis hilang. Dan di situlah seharusnya perhatian kita tertuju—bukan hanya pada fluktuasi dolar, tapi pada nyawa ekonomi rakyat yang mulai padam satu per satu.(*/saf)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 08 Juni 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:55
Ashar
15:16
Maghrib
17:48
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)