home edukasi & pesantren

Pemerintahan dan Masyarakat Islam Menurut John Louis Esposito

Kamis, 15 Mei 2025 - 16:00 WIB
John Louis Esposito. Foto: Lehigh
LANGIT7.ID-Wafatnya Nabi Muhammad SAW menimbulkan krisis kepemimpinan dalam masyarakat Islam, yang kemudian melahirkan institusi kekhalifahan. Situasi ini menjadi awal mula munculnya dua golongan besar dalam Islam: Sunni dan Syi’ah.

Setelah Nabi Muhammad wafat, umat Islam menghadapi persoalan tentang siapa yang akan menjadi penggantinya. Muncul dua pandangan utama. Mayoritas masyarakat meyakini bahwa Muhammad tidak menunjuk seorang pengganti secara eksplisit, sehingga pemilihan khalifah diserahkan kepada para sahabat senior.

"Dalam pandangan ini, khalifah adalah pemimpin politik umat Islam, namun tidak mengklaim diri sebagai rasul," tulis John L. Esposito dalam bukunya berjudul "The Islamic Threat: Myth or reality?" yang dalam edisi Indonesia menjadi "Ancaman Islam Mitos atau Realitas" (Mizan).

Di sisi lain, terdapat kelompok yang meyakini bahwa Muhammad telah menunjuk Ali — sepupu sekaligus menantu beliau — sebagai pengganti. Bagi kelompok ini, yang kemudian dikenal sebagai Syi’ah (pengikut Ali), kepemimpinan umat Islam harus berada di tangan keluarga Nabi.

Ali dan keturunannya dipandang sebagai pemimpin politik sekaligus agama (Imam). Meskipun bukan nabi, Imam dalam pandangan Syi’ah memiliki status khusus sebagai pemimpin yang maksum (terjaga dari kesalahan) dan bertindak atas dasar agama.

Pandangan mayoritas Sunni kemudian menjadi dominan. Masyarakat Islam dipimpin oleh negara kekhalifahan, yang lama-kelamaan berubah menjadi kekhalifahan dinasti dan kekaisaran.

Enam abad pertama sejarah Islam dapat dibagi ke dalam tiga periode utama:
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya