3 Kritik terhadap Muktazilah: Kisah al-Asy‘ari Bertanya kepada Guru Besarnya
Miftah yusufpati
Ahad, 18 Mei 2025 - 04:15 WIB
Mutazilah melancarkan tekanan dan bahkan hukuman terhadap siapa saja yang menolak doktrin-doktrin mereka. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Menurut catatan sejarahAl-Asy‘ari(w. 330 H/942 M) adalah yang pertama kali menyatakan kekecewaannya terhadap konsep teologi Mu‘tazilah yang sangat rasionalistik.
Konon, pada suatu ketika, al-Asy‘ari bertanya kepada guru besarnya, al-Jubba’i—seorang teolog Mu‘tazilah terkemuka pada zamannya—tentang nasib seorang anak dan seorang dewasa yang sama-sama masuk surga karena keimanannya.
Namun, sesuai dengan konsep keadilan Tuhan dalam pandangan Mu‘tazilah, orang dewasa itu menempati kedudukan yang lebih tinggi dibanding si anak. Mengapa demikian? tanya al-Asy‘ari. Al-Jubba’i menjawab: karena orang dewasa sempat melakukan amal kebajikan, sedangkan si anak belum.
Lalu, al-Asy‘ari mengejar dengan pertanyaan lanjutan: mengapa si anak tidak diberi umur lebih panjang agar ia juga sempat beramal seperti orang dewasa? Al-Jubba’i menjawab: Tuhan tahu, jika si anak hidup lebih lama, ia akan menjadi manusia durhaka. Dan karena Tuhan harus berbuat yang terbaik bagi manusia, maka demikianlah adanya.
Al-Asy‘ari kembali menekan: jika begitu, bagaimana jika orang-orang yang masuk neraka memprotes karena mereka tidak dimatikan sejak kecil saja, agar tidak sempat menjadi manusia durhaka?
Baca juga: Pemikiran Teologi Muktazilah: Sifat-Sifat Tuhan Tidak Sebangun dengan Hakikat-Nya
KH Masdar F. Mas'udi dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam" bab "Telaah Kritis atas Teologi Muktazilah" (Yayasan Paramadina) mengatakan yang menarik dari diskusi ini bukan hanya karena al-Jubba’i kehabisan jawaban, tetapi juga karena al-Asy‘ari sebenarnya sama-sama menggunakan logika untuk menyampaikan argumennya.
Konon, pada suatu ketika, al-Asy‘ari bertanya kepada guru besarnya, al-Jubba’i—seorang teolog Mu‘tazilah terkemuka pada zamannya—tentang nasib seorang anak dan seorang dewasa yang sama-sama masuk surga karena keimanannya.
Namun, sesuai dengan konsep keadilan Tuhan dalam pandangan Mu‘tazilah, orang dewasa itu menempati kedudukan yang lebih tinggi dibanding si anak. Mengapa demikian? tanya al-Asy‘ari. Al-Jubba’i menjawab: karena orang dewasa sempat melakukan amal kebajikan, sedangkan si anak belum.
Lalu, al-Asy‘ari mengejar dengan pertanyaan lanjutan: mengapa si anak tidak diberi umur lebih panjang agar ia juga sempat beramal seperti orang dewasa? Al-Jubba’i menjawab: Tuhan tahu, jika si anak hidup lebih lama, ia akan menjadi manusia durhaka. Dan karena Tuhan harus berbuat yang terbaik bagi manusia, maka demikianlah adanya.
Al-Asy‘ari kembali menekan: jika begitu, bagaimana jika orang-orang yang masuk neraka memprotes karena mereka tidak dimatikan sejak kecil saja, agar tidak sempat menjadi manusia durhaka?
Baca juga: Pemikiran Teologi Muktazilah: Sifat-Sifat Tuhan Tidak Sebangun dengan Hakikat-Nya
KH Masdar F. Mas'udi dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam" bab "Telaah Kritis atas Teologi Muktazilah" (Yayasan Paramadina) mengatakan yang menarik dari diskusi ini bukan hanya karena al-Jubba’i kehabisan jawaban, tetapi juga karena al-Asy‘ari sebenarnya sama-sama menggunakan logika untuk menyampaikan argumennya.