Setiap Anak Dilahirkan dalam Keadaan Fitrah, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali
Miftah yusufpati
Selasa, 27 Mei 2025 - 05:45 WIB
Makin tinggi materi subjek pengetahuan didapatnya, makin besarlah kesenangannya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Nabi Muhammad SAW bersabda: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (untuk menjadi muslim); orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."
Imam Al-Ghazali dalam bukunya berjudul "The Alchemy of Happiness" yang diterjemahkan Haidar Bagir menjadi "Kimia Kebahagiaan" (Mizan, 1979) menjelaskan setiap manusia, di kedalaman kesadarannya, pernah mendengar pertanyaan: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" dan menjawab: "Ya."
"Namun, ada hati yang telah sedemikian kotor oleh karat dan debu, sehingga tidak mampu lagi memantulkan kebenaran dengan jernih," ujar Imam Al-Ghazali.
Sementara hati para nabi dan wali, meskipun mereka juga memiliki nafsu sebagaimana manusia biasa, sangat peka terhadap kesan-kesan ilahiah.
Bukan hanya dengan nalar pengetahuan capaian dan intuisi saja jiwa manusia bisa menempati tingkatan paling utama di antara makhluk-makhluk lain, tetapi juga dengan nalar kekuatan. Sebagaimana malaikat-malaikat berkuasa atas kekuatan-kekuatan alam, demikian jugalah jiwa mengatur anggota-anggota badan.
Baca juga: Imam Al-Ghazali: Tujuan Disiplin Moral Memurnikan Hati dari Karat Nafsu dan Amarah
Jiwa yang telah mencapai suatu tingkatan kekuatan khusus, tidak saja mengatur jasadnya sendiri, melainkan juga jasad orang lain. Jika mereka ingin agar seseorang yang sakit bisa sembuh, maka si sakit pun akan sembuh, atau menginginkan seseorang yang sehat agar jatuh sakit, maka sakitlah orang itu, atau jika ia menginginkan kehadiran seseorang, maka datanglah orang itu kepadanya.
Imam Al-Ghazali dalam bukunya berjudul "The Alchemy of Happiness" yang diterjemahkan Haidar Bagir menjadi "Kimia Kebahagiaan" (Mizan, 1979) menjelaskan setiap manusia, di kedalaman kesadarannya, pernah mendengar pertanyaan: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" dan menjawab: "Ya."
"Namun, ada hati yang telah sedemikian kotor oleh karat dan debu, sehingga tidak mampu lagi memantulkan kebenaran dengan jernih," ujar Imam Al-Ghazali.
Sementara hati para nabi dan wali, meskipun mereka juga memiliki nafsu sebagaimana manusia biasa, sangat peka terhadap kesan-kesan ilahiah.
Bukan hanya dengan nalar pengetahuan capaian dan intuisi saja jiwa manusia bisa menempati tingkatan paling utama di antara makhluk-makhluk lain, tetapi juga dengan nalar kekuatan. Sebagaimana malaikat-malaikat berkuasa atas kekuatan-kekuatan alam, demikian jugalah jiwa mengatur anggota-anggota badan.
Baca juga: Imam Al-Ghazali: Tujuan Disiplin Moral Memurnikan Hati dari Karat Nafsu dan Amarah
Jiwa yang telah mencapai suatu tingkatan kekuatan khusus, tidak saja mengatur jasadnya sendiri, melainkan juga jasad orang lain. Jika mereka ingin agar seseorang yang sakit bisa sembuh, maka si sakit pun akan sembuh, atau menginginkan seseorang yang sehat agar jatuh sakit, maka sakitlah orang itu, atau jika ia menginginkan kehadiran seseorang, maka datanglah orang itu kepadanya.