home edukasi & pesantren

Jelang Hari Raya Iduladha: Mata Langit dan Penentu Waktu Suci

Jum'at, 30 Mei 2025 - 04:15 WIB
Setiap tahun umat Islam menengadahkan kepala ke langit dengan harap dan hormat yang sama. Ilustrasi: Gulf News
LANGIT7.ID--Di sebuah padang pasir Abu Dhabi yang gersang, lensa teleskop di Al Khatm Astronomical Observatory mengarah ke langit pagi yang nyaris kosong. Pada pukul 11:00 waktu setempat, tanggal 27 Mei 2025, seberkas lengkung tipis bulan muda tertangkap kamera. Gambar itu — samar, pucat, nyaris tidak kasatmata — bukan sekadar fenomena langit. Ia adalah penanda waktu suci: permulaan bulan Dzulhijjah 1446 Hijriah, bulan haji, dan pelabuhan waktu menuju Hari Raya Kurban.

Tapi sebagaimana tiap tahun, kisah awal bulan ini tak pernah hanya soal kalkulasi astronomi. Ia selalu tentang mata dan keyakinan, tentang saksi mata dan kesaksian, tentang bagaimana langit diterjemahkan oleh bumi—terutama di dunia Muslim yang tak seragam dalam menyikapi bulan sabit pertama.

Arab Saudi Menjadi Sentral

Sebagaimana tradisi yang sudah berlangsung sejak masa Kekhalifahan, Arab Saudi tetap menjadi referensi utama bagi mayoritas dunia Islam.

Ketika Mahkamah Agung Saudi menerima laporan rukyat dari Tamir pada Selasa malam, 27 Mei 2025, keputusan cepat menyusul: 28 Mei ditetapkan sebagai awal Dzulhijjah. Dengan begitu, Hari Arafah jatuh pada Kamis, 5 Juni, dan Idul Adha pada Jumat, 6 Juni.

Baca juga: Resmi! Arab Saudi Umumkan Tanggal Idul Adha 2025 dan Jadwal Haji Lengkap

Keputusan Saudi itu dengan cepat diikuti oleh negara-negara teluk lainnya: Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, dan bahkan komunitas Muslim di Australia yang merujuk pada keputusan Saudi secara langsung. “Kita mengikuti kalender haji, dan kiblat haji adalah Makkah,” kata Grand Mufti Australia lewat pernyataan resminya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya