Larangan Rafats, Fusuk, dan Jidal saat Berhaji, Begini Penjelasannya
Miftah yusufpati
Sabtu, 31 Mei 2025 - 05:45 WIB
Rafats adalah segala hal terkait hubungan suami istri, baik ucapan maupun perbuatan, apalagi jika ada wanita. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Abdulmalik al-Qosim dalam kitab "Risalat 'iilaa 'ahl earfat wamuzdalifat waminaa" mengingatkan bahwa Allah Azza wa Jalla telah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menjadikannya haram di antara manusia. Jangan menyakiti sesama Muslim, baik dengan lisan maupun perbuatan. Hindari sikap sombong, merasa lebih tahu, atau menyakiti jemaah lain. Jauhi pula perbuatan tidak senonoh dan kefasikan saat berhaji.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berbuat tidak senonoh), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan selama haji.” (QS Al-Baqarah: 197)
Ibnu Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa rafatsadalah segala hal terkait hubungan suami istri, baik ucapan maupun perbuatan, apalagi jika ada wanita. Fusuk mencakup semua bentuk maksiat dan larangan ihram. Jidal adalah perdebatan, kecurigaan, dan permusuhan, yang mengakibatkan kerusakan dan pertikaian.
Baca juga: Dapat Kejutan Berangkat Haji dari Suami, Ryana Dea: Masih Kaya Mimpi Diundang Jadi Tamu Allah
Inti dari haji adalah merendahkan diri di hadapan Allah dan mendekat kepada-Nya melalui ibadah. Haji adalah perjalanan spiritual untuk meninggalkan keburukan, dan jika ini terwujud, akan menghasilkan haji mabrur yang tidak ada balasannya selain surga. Walaupun larangan-larangan tersebut berlaku kapan saja, namun saat haji larangan itu lebih ditekankan.
Al-Qosim mengingatkan di hari-hari penuh berkah ini, sadarlah bahwa waktu sangat terbatas dan cepat berlalu. Carilah sahabat yang baik dan teman terbaik, mereka yang menjaga salat, rajin ibadah sunnah, dan gemar membaca Al-Qur’an. Jadikan mereka penolong dan pendamping dalam perjalanan taat dan ibadah. "Teman yang baik akan membantu menguatkan langkahmu menuju ridha Allah," lanjutnya.
Selanjutnya al-Qosim juga mengatakan agar jemaah haji memperbanyak doa,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berbuat tidak senonoh), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan selama haji.” (QS Al-Baqarah: 197)
Ibnu Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa rafatsadalah segala hal terkait hubungan suami istri, baik ucapan maupun perbuatan, apalagi jika ada wanita. Fusuk mencakup semua bentuk maksiat dan larangan ihram. Jidal adalah perdebatan, kecurigaan, dan permusuhan, yang mengakibatkan kerusakan dan pertikaian.
Baca juga: Dapat Kejutan Berangkat Haji dari Suami, Ryana Dea: Masih Kaya Mimpi Diundang Jadi Tamu Allah
Inti dari haji adalah merendahkan diri di hadapan Allah dan mendekat kepada-Nya melalui ibadah. Haji adalah perjalanan spiritual untuk meninggalkan keburukan, dan jika ini terwujud, akan menghasilkan haji mabrur yang tidak ada balasannya selain surga. Walaupun larangan-larangan tersebut berlaku kapan saja, namun saat haji larangan itu lebih ditekankan.
Al-Qosim mengingatkan di hari-hari penuh berkah ini, sadarlah bahwa waktu sangat terbatas dan cepat berlalu. Carilah sahabat yang baik dan teman terbaik, mereka yang menjaga salat, rajin ibadah sunnah, dan gemar membaca Al-Qur’an. Jadikan mereka penolong dan pendamping dalam perjalanan taat dan ibadah. "Teman yang baik akan membantu menguatkan langkahmu menuju ridha Allah," lanjutnya.
Selanjutnya al-Qosim juga mengatakan agar jemaah haji memperbanyak doa,