home masjid

Pakaian Bisa Melindungi Tubuh, tapi Ada Pakaian Lain yang Melindungi Jiwa

Senin, 09 Juni 2025 - 16:13 WIB
Pakaian fisik bisa menipu. Tapi pakaian takwajika dirajut dengan kesungguhantak mudah robek oleh angin dunia. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di sebuah musim dingin yang membekukan, pakaian tebal menyelamatkan tubuh dari gigil dan penyakit. Di hamparan gurun yang menyengat, lembar kain tipis menyaring panas yang membakar. Perlindungan fisik seperti ini nyaris tak terbantahkan: pakaian adalah pagar pertama tubuh dari ancaman alam.

Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Qur'an" mengatakan manusia tidak hidup dalam tubuh semata. Ada batin yang perlu dipagari, ada jiwa yang harus ditutupi dari hawa nafsu dan kebengisan dunia.

"Pakaian, dalam pengertian yang lebih luas, melindungi lebih dari sekadar kulit. Ia menjaga harga diri, membentuk persepsi, bahkan menjadi cermin akhlak," tuturnya.

Sejarah mencatat bagaimana bangsa-bangsa memperlakukan pakaian sebagai simbol mental kolektif. Kemal Ataturk di awal abad ke-20 menghapus tarbusy dari kepala rakyat Turki karena dianggap lambang keterbelakangan dan pasrah. Ia menggantinya dengan topi Eropa, berharap bangsa itu berpikir maju seperti Barat.

Baca juga: Pakaian Tak Hanya Soal Kain: Antara Aurat, Adab, dan Identitas dalam Al-Qur’an

Militer pun paham betul betapa kuatnya daya sugesti pakaian. Setelah kalah perang, seragam tentara dirombak: warna, potongan, hingga simbol lambang dirombak untuk membentuk semangat baru. Seragam bukan hanya kain, tapi kredo diam yang menanamkan sikap.

Pengaruh psikologis pakaian tak hanya berlaku di medan perang. Di pesta pernikahan atau konferensi akademik, pakaian dapat membuat seseorang percaya diri atau sebaliknya: rikuh dan menghindar. Sufi pun tahu soal ini. Mereka memilih shuf, kain wol kasar, bukan tanpa alasan. Kekasaran fisik di badan adalah simbol kerendahan hati yang menenangkan jiwa.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya