LANGIT7.ID-Di sebuah musim dingin yang membekukan, pakaian tebal menyelamatkan tubuh dari gigil dan penyakit. Di hamparan gurun yang menyengat, lembar kain tipis menyaring panas yang membakar. Perlindungan fisik seperti ini nyaris tak terbantahkan: pakaian adalah pagar pertama tubuh dari ancaman alam.
Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "
Wawasan Al-Qur'an" mengatakan manusia tidak hidup dalam tubuh semata. Ada batin yang perlu dipagari, ada jiwa yang harus ditutupi dari
hawa nafsu dan kebengisan dunia.
"Pakaian, dalam pengertian yang lebih luas, melindungi lebih dari sekadar kulit. Ia menjaga harga diri, membentuk persepsi, bahkan menjadi cermin akhlak," tuturnya.
Sejarah mencatat bagaimana bangsa-bangsa memperlakukan pakaian sebagai simbol mental kolektif. Kemal Ataturk di awal abad ke-20 menghapus tarbusy dari kepala rakyat
Turki karena dianggap lambang keterbelakangan dan pasrah. Ia menggantinya dengan topi Eropa, berharap bangsa itu berpikir maju seperti Barat.
Baca juga: Pakaian Tak Hanya Soal Kain: Antara Aurat, Adab, dan Identitas dalam Al-Qur’an Militer pun paham betul betapa kuatnya daya sugesti pakaian. Setelah kalah perang, seragam tentara dirombak: warna, potongan, hingga simbol lambang dirombak untuk membentuk semangat baru. Seragam bukan hanya kain, tapi kredo diam yang menanamkan sikap.
Pengaruh psikologis pakaian tak hanya berlaku di medan perang. Di pesta pernikahan atau konferensi akademik, pakaian dapat membuat seseorang percaya diri atau sebaliknya: rikuh dan menghindar.
Sufi pun tahu soal ini. Mereka memilih shuf, kain wol kasar, bukan tanpa alasan. Kekasaran fisik di badan adalah simbol kerendahan hati yang menenangkan jiwa.
Dalam tradisi Islam, pakaian bahkan disebut sebagai manifestasi takwa. Al-Qur’an menyebut “libas at-taqwa” — pakaian takwa — sebagai pakaian terbaik. Pakaian yang tidak dijual di butik, tidak bisa disewa untuk satu malam pesta. Ia adalah tenunan moral yang dirajut sepanjang hidup, dengan benang-benang tobat, sabar, qana’ah, syukur, dan ridha.
“Iman itu telanjang,” sabda Nabi Muhammad SAW. “Pakaiannya adalah takwa.”
Baca juga: Pakaian dalam Al-Quran: Menutup Aurat Kewajiban Syariat dan Dorongan Kodrati Ayat-ayat Al-Qur’an tak sekadar menjelaskan bagaimana pakaian membedakan manusia dari binatang. Ia juga mengandung fungsi sosial dan spiritual. Jilbab, misalnya, diperintahkan bukan hanya sebagai penutup tubuh, tapi juga sebagai tanda identitas—agar perempuan dikenal dan tidak diganggu. Suatu bentuk perlindungan yang bukan sekadar fisik.
Namun Al-Qur’an juga mengingatkan: jangan seperti perempuan gila yang mengurai kembali benang yang sudah ditenunnya dengan kuat. Sebuah metafora bagi orang yang merusak sendiri pakaian takwanya, setelah bersusah payah membangunnya.
Dalam dunia hari ini, ketika pakaian sering jadi alat pamer dan pembentuk ilusi status sosial, peringatan itu terasa nyaring. Pakaian fisik bisa menipu. Tapi pakaian takwa—jika dirajut dengan kesungguhan—tak mudah robek oleh angin dunia.
Baca juga: Pakaian dalam Al-Quran: Pertarungan antara Jalan Kembali dan Jalan Tersesat(mif)