home masjid

Pakaian sebagai Petunjuk Identitas: Makna Keislaman di Ruang Publik

Selasa, 10 Juni 2025 - 16:48 WIB
Sejatinya, Islam memang tak menetapkan satu mode tunggal. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dari kejauhan, seorang perempuan berjalan tergesa melintasi trotoar di kawasan Kuningan, Jakarta. Wajahnya nyaris tak terlihat, hanya mata yang menyembul dari balik kerudung hitam yang menjuntai hingga pergelangan tangan.

Di seberang jalan, seorang siswi SMA berdiri menunggu ojek daring. Seragam abu-abu putih, rambut tergerai, tangan memegang ponsel. Dua tubuh perempuan yang sama-sama Muslim, namun dengan penampilan yang berbeda jauh. Satu mengusung simbol identitas, satu lagi memilih ekspresi personal.

Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran" mengatakan dalam perdebatan publik hari-hari ini, pakaian bukan lagi sekadar pelindung tubuh dari panas dan dingin. Ia menjelma penanda.

"Dalam masyarakat yang semakin kompleks, simbol visual seperti pakaian menjadi bahasa tanpa kata untuk menyampaikan siapa kita dan kepada siapa kita merasa berutang kesetiaan," jelasnya.

Baca juga: Pakaian Bisa Melindungi Tubuh, tapi Ada Pakaian Lain yang Melindungi Jiwa

Sejatinya, Islam memang tak menetapkan satu mode tunggal. Tidak ada ketentuan spesifik apakah gamis harus jatuh di atas mata kaki atau kerudung mesti menjuntai ke pinggul. Namun dalam surat Al-Ahzab ayat 59, Allah SWT memberi petunjuk bahwa busana bisa menjadi penunjuk identitas: “Yang demikian itu lebih mudah bagi mereka untuk dikenal.” Maka pakaian bukan sekadar soal estetika, ia adalah isyarat eksistensi.

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW menunjukkan kepekaan luar biasa terhadap penanda budaya. Ketika membahas cara mengajak umat untuk menunaikan salat, Nabi menolak opsi lonceng atau terompet.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya