LANGIT7.ID-Dari kejauhan, seorang
perempuan berjalan tergesa melintasi trotoar di kawasan Kuningan, Jakarta. Wajahnya nyaris tak terlihat, hanya mata yang menyembul dari balik kerudung hitam yang menjuntai hingga pergelangan tangan.
Di seberang jalan, seorang siswi SMA berdiri menunggu ojek daring. Seragam abu-abu putih, rambut tergerai, tangan memegang ponsel. Dua tubuh perempuan yang sama-sama Muslim, namun dengan penampilan yang berbeda jauh. Satu mengusung simbol identitas, satu lagi memilih ekspresi personal.
Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "
Wawasan Al-Quran" mengatakan dalam perdebatan publik hari-hari ini, pakaian bukan lagi sekadar pelindung tubuh dari panas dan dingin. Ia menjelma penanda.
"Dalam masyarakat yang semakin kompleks, simbol visual seperti pakaian menjadi bahasa tanpa kata untuk menyampaikan siapa kita dan kepada siapa kita merasa berutang kesetiaan," jelasnya.
Baca juga: Pakaian Bisa Melindungi Tubuh, tapi Ada Pakaian Lain yang Melindungi Jiwa Sejatinya, Islam memang tak menetapkan satu mode tunggal. Tidak ada ketentuan spesifik apakah gamis harus jatuh di atas mata kaki atau kerudung mesti menjuntai ke pinggul. Namun dalam surat Al-Ahzab ayat 59, Allah SWT memberi petunjuk bahwa busana bisa menjadi penunjuk identitas: “Yang demikian itu lebih mudah bagi mereka untuk dikenal.” Maka pakaian bukan sekadar soal estetika, ia adalah isyarat eksistensi.
Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW menunjukkan kepekaan luar biasa terhadap penanda budaya. Ketika membahas cara mengajak umat untuk menunaikan salat, Nabi menolak opsi lonceng atau terompet.
Lonceng, kata beliau, adalah milik Nasrani; terompet, milik Yahudi. Pilihan akhirnya jatuh pada adzan, yang datang lewat mimpi sahabat Abdullah bin Zaid dan diperkuat Umar bin Khattab. Penolakan Nabi bukan semata perkara teknis. Ia adalah penegasan: umat ini harus punya gaya tersendiri.
“Siapa yang meniru satu kaum, maka ia termasuk kelompok kaum itu,” sabda Rasul SAW. Hadis ini kerap dikutip dalam diskusi tentang penyeragaman identitas umat, dari gaya berpakaian hingga selera tontonan. Namun seperti banyak hal lain dalam agama, tafsirnya tak selalu tunggal. Apakah meniru itu soal bentuk, atau makna?
Jilbab, dalam pengertian klasiknya, memang telah lama diterima sebagai simbol identitas Muslimah. Ia bukan hanya pelindung tubuh, tapi pelengkap kepribadian rohani. Ayat Al-Hadid [57]:16 memperingatkan bahaya mengabaikan dimensi spiritual dari identitas, ketika hati menjadi keras karena waktu yang panjang berlalu tanpa kesadaran rohani.
Baca juga: Pakaian Tak Hanya Soal Kain: Antara Aurat, Adab, dan Identitas dalam Al-Qur’an Tapi zaman berubah. Identitas kian cair. Seorang perempuan bisa mengenakan hijab syar’i sambil menjadi pengusaha start-up yang tampil dalam konferensi teknologi global. Di sisi lain, ada yang memakai kerudung karena tuntutan pekerjaan atau lingkungan, bukan karena kesadaran iman.
Di tengah keragaman ini, penting diingat bahwa pakaian adalah ekspresi, bukan esensi. Ia bisa mencerminkan kepribadian, tapi tak serta-merta menjamin kemuliaan rohani. Jubah bisa membungkus kesombongan, sebagaimana celana jins bisa menyembunyikan ketulusan.
Lalu, di mana letak keseimbangan antara mode dan makna? Mungkin jawabannya ada pada prinsip yang dibawa Nabi: tampil beda bukan untuk membeda-bedakan, tapi untuk memperjelas arah hidup. Bukan semata soal kain yang membungkus tubuh, tapi tentang roh yang memilih untuk tunduk.
Di zaman ketika segala sesuatu dinilai dari tampak luar, identitas bukan lagi hanya soal keyakinan, tapi juga soal keberanian menunjukkan siapa kita—dengan jujur, bijak, dan tidak meniru membabi buta.
Baca juga: Pakaian dalam Al-Quran: Menutup Aurat Kewajiban Syariat dan Dorongan Kodrati(mif)