Haji dan Jalan Pulang Menuju Allah: Titik Awal, Bukan Titik Akhir
Miftah yusufpati
Jum'at, 13 Juni 2025 - 16:00 WIB
Jalan pulang dari haji bukan menuju rumah, tapi menuju Tuhan. Ilustrasi: Judial Council
LANGIT7.ID-Makkah, Arafah, Mina jaraknya ribuan kilometer dari Tanah Air. Berjuta umat melafazkan satu kalimat yang sama: Labbaik Allahumma labbaik. Sebuah kalimat penyerahan, bukan hanya tubuh yang menyatu dalam barisan, tapi jiwa yang menanggalkan ego.
Di Arafah, air mata membasahi pipi; bukan karena teriknya matahari, melainkan karena cahaya harap akan ampunan. Di Muzdalifah, bumi menjadi kasur, langit menjadi atap, dan seluruh dinding dunia runtuh menjadi sehelai kesadaran: bahwa tak ada daya dan upaya selain dengan-Nya.
Syaikh Shalâh Budair, Imam Masjid Nabawi, dalam khotbahnya pada pada 15 Dzulhijjah 1424 H menyerukan renungan pasca-haji yang menggugah. Seruannya bukan semata untuk jamaah, tapi sebetulnya relevan bagi setiap orang yang pernah bersujud, berharap dirinya dibersihkan.
"Jangan seperti perempuan dungu yang merobek benang yang telah dipintalnya sendiri," katanya, mengutip firman Allah dalam Surah an-Nahl: 92. Itu metafora kejatuhan spiritual: seseorang yang sempat mencapai puncak kesucian, tapi kembali turun ke lembah kelalaian.
Baca juga: Syukuran Sebelum dan Sesudah Berhaji Menurut Pandangan Islam
Kesalehan yang Diuji Saat Pulang
Bagi sebagian orang, haji adalah klimaks spiritual. Tapi bagi Budair, justru itulah titik awal pengujian. Jalan pulang dari Mina ke kampung halaman bukan sekadar jalur penerbangan internasional. Ia adalah jalan balik menuju dunia nyata, di mana lisan kembali mudah mencela, tangan kembali merebut yang bukan hak, dan hati kembali lupa kepada yang Maha Lembut.
Di Arafah, air mata membasahi pipi; bukan karena teriknya matahari, melainkan karena cahaya harap akan ampunan. Di Muzdalifah, bumi menjadi kasur, langit menjadi atap, dan seluruh dinding dunia runtuh menjadi sehelai kesadaran: bahwa tak ada daya dan upaya selain dengan-Nya.
Syaikh Shalâh Budair, Imam Masjid Nabawi, dalam khotbahnya pada pada 15 Dzulhijjah 1424 H menyerukan renungan pasca-haji yang menggugah. Seruannya bukan semata untuk jamaah, tapi sebetulnya relevan bagi setiap orang yang pernah bersujud, berharap dirinya dibersihkan.
"Jangan seperti perempuan dungu yang merobek benang yang telah dipintalnya sendiri," katanya, mengutip firman Allah dalam Surah an-Nahl: 92. Itu metafora kejatuhan spiritual: seseorang yang sempat mencapai puncak kesucian, tapi kembali turun ke lembah kelalaian.
Baca juga: Syukuran Sebelum dan Sesudah Berhaji Menurut Pandangan Islam
Kesalehan yang Diuji Saat Pulang
Bagi sebagian orang, haji adalah klimaks spiritual. Tapi bagi Budair, justru itulah titik awal pengujian. Jalan pulang dari Mina ke kampung halaman bukan sekadar jalur penerbangan internasional. Ia adalah jalan balik menuju dunia nyata, di mana lisan kembali mudah mencela, tangan kembali merebut yang bukan hak, dan hati kembali lupa kepada yang Maha Lembut.