Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 01 Mei 2026
home masjid detail berita

Haji dan Jalan Pulang Menuju Allah: Titik Awal, Bukan Titik Akhir

miftah yusufpati Jum'at, 13 Juni 2025 - 16:00 WIB
Haji dan Jalan Pulang Menuju Allah: Titik Awal, Bukan Titik Akhir
Jalan pulang dari haji bukan menuju rumah, tapi menuju Tuhan. Ilustrasi: Judial Council
LANGIT7.ID-Makkah, Arafah, Mina jaraknya ribuan kilometer dari Tanah Air. Berjuta umat melafazkan satu kalimat yang sama: Labbaik Allahumma labbaik. Sebuah kalimat penyerahan, bukan hanya tubuh yang menyatu dalam barisan, tapi jiwa yang menanggalkan ego.

Di Arafah, air mata membasahi pipi; bukan karena teriknya matahari, melainkan karena cahaya harap akan ampunan. Di Muzdalifah, bumi menjadi kasur, langit menjadi atap, dan seluruh dinding dunia runtuh menjadi sehelai kesadaran: bahwa tak ada daya dan upaya selain dengan-Nya.

Syaikh Shalâh Budair, Imam Masjid Nabawi, dalam khotbahnya pada pada 15 Dzulhijjah 1424 H menyerukan renungan pasca-haji yang menggugah. Seruannya bukan semata untuk jamaah, tapi sebetulnya relevan bagi setiap orang yang pernah bersujud, berharap dirinya dibersihkan.

"Jangan seperti perempuan dungu yang merobek benang yang telah dipintalnya sendiri," katanya, mengutip firman Allah dalam Surah an-Nahl: 92. Itu metafora kejatuhan spiritual: seseorang yang sempat mencapai puncak kesucian, tapi kembali turun ke lembah kelalaian.

Baca juga: Syukuran Sebelum dan Sesudah Berhaji Menurut Pandangan Islam

Kesalehan yang Diuji Saat Pulang

Bagi sebagian orang, haji adalah klimaks spiritual. Tapi bagi Budair, justru itulah titik awal pengujian. Jalan pulang dari Mina ke kampung halaman bukan sekadar jalur penerbangan internasional. Ia adalah jalan balik menuju dunia nyata, di mana lisan kembali mudah mencela, tangan kembali merebut yang bukan hak, dan hati kembali lupa kepada yang Maha Lembut.

Haji adalah teater keikhlasan. Seorang direktur perusahaan melepas jasnya demi mengenakan dua lembar kain putih. Seorang menteri tak kuasa menghindari desakan kerumunan. Di depan Kakbah, mereka semua setara dan di sanalah, menurut Budair, manusia diperkenalkan ulang kepada konsep keadilan Ilahiah.

Tapi adakah kesetaraan itu bertahan ketika pulang?

Mengubah Ihram Menjadi Etos Hidup

“Ihram bukan kostum, tapi deklarasi,” kata seorang jurnalis Arab Saudi dalam diskusi usai khotbah di Masjidil Haram. “Ketika Anda melepaskan ihram, bukan berarti Anda melepaskan disiplin.”

Poin itu menjadi gema utama dari khotbah Budair. Bahwa larangan ihram sejatinya adalah pendidikan moral: tidak memotong rambut berarti menahan diri dari hal-hal kecil, tidak bertengkar berarti mengelola emosi. Maka bagaimana mungkin orang yang baru saja mampu menahan diri dari perkara halal, kini dengan enteng melanggar perkara haram?

Budair menyindir perilaku sebagian jamaah yang pulang dengan gelar "haji", tapi kembali mengakrabi suap, riba, dan praktik-praktik kesyirikan—dari menggantung jimat hingga mendatangi dukun. “Haji apakah itu?” tanyanya getir. “Haji yang hanya menggugurkan rukun, tapi tidak mengubah tabiat.”

Baca juga: Tata Cara Berihram: Salah Satunya Disunnahkan Mandi

Labbaik yang Diterjemahkan dalam Hidup

Di banyak keluarga, kepulangan jamaah haji disambut dengan pesta. Penuh ucapan selamat, lengkap dengan nasi kebuli dan spanduk ucapan "Selamat Datang, Pak Haji". Tapi di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih substansial: apakah kepulangan itu juga disambut oleh malaikat sebagai orang yang berubah?

Hasan al-Bashri pernah ditanya, "Apa tanda haji mabrur?" Jawabnya: “Engkau pulang dengan zuhud pada dunia dan rindu pada akhirat.” Pernyataan ini bukan ajakan untuk menolak dunia, tapi mendudukkan dunia pada tempatnya. Haji bukanlah penolakan terhadap kehidupan, tapi penataan ulang prioritas di dalamnya.

Budair berharap, haji melahirkan insan baru: ayah yang lebih penyayang, pedagang yang lebih jujur, pejabat yang lebih adil. "Alangkah indahnya jika yang tersimpan dalam hati lebih baik dari yang tampak," katanya. Kalimat itu barangkali terdengar puitis, tapi sesungguhnya adalah kritik sosial. Karena di dunia pasca-haji, sering kali yang tampak adalah kesalehan seremonial—sedang hati tetap keruh oleh ambisi duniawi.

Haji sebagai Titik Awal, Bukan Titik Akhir

Khutbah Budair tidak menyodorkan formula pasti. Tapi ia menawarkan sesuatu yang langka: kejujuran untuk bercermin. Bahwa haji bukan pelarian, tapi penegasan kembali misi hidup: menjadi hamba, bukan sekadar pemilik gelar.

Sebagaimana firman Allah:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian." (QS al-Hijr: 99)

Dengan kata lain: jalan pulang dari haji bukan menuju rumah, tapi menuju Tuhan. Maka siapa pun yang pulang dari Arafah, mestinya tak lagi jadi manusia yang sama. Sebab yang kembali ke tanah kelahirannya, sejatinya adalah jiwa yang telah berhaji—dan seharusnya, telah berhijrah.

Baca juga: Makna Intrinsik Takbiratul Ihram dan Doa Iftitah dalam Salat

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 01 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)