Perut Berbohong dan Jiwa Menangis: Pesan Nabi tentang Sakit yang Tak Tampak di Luar
Miftah yusufpati
Jum'at, 20 Juni 2025 - 16:40 WIB
Dalam Islam tak selalu harus diobati dengan resep, tapi dengan pendekatan rohani, pendidikan moral sejak dini, dan lingkungan keluarga yang tenang. Ilustrasi: AI
LANGIT.ID-Seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ dengan keluhan sederhana namun membingungkan. Ia berkata, “Saudaraku sakit perut. Sudah diberi obat, tapi tak juga sembuh.” Sang Nabi menjawab dengan kalimat yang diabadikan oleh Imam Bukhari: “Perut saudaramu berbohong.”
Jawaban ini, yang tampak jenaka dalam tradisi hikmah, menyimpan kedalaman tafsir: bahwa keluhan fisik tak selalu bersumber dari fisik. Ia bisa saja lahir dari batin yang menderita. Sesuatu yang tak bisa disentuh jarum suntik atau ditakar dosis antibiotik.
Dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Prof. Dr. M. Quraish Shihab mengajak pembacanya menelusuri dimensi lain dari kesehatan—yakni kesehatan jiwa, qalbu, dan akal. Sebuah wilayah yang kerap tak dijangkau dunia medis modern, tapi menjadi pusat perhatian Al-Qur’an.
Menurut Al-Qur’an, manusia tak hanya bisa sakit tubuhnya, tetapi juga sakit hatinya. Frasa “fi qulubihim maradh” (dalam hati mereka ada penyakit) muncul tak kurang dari sebelas kali dalam kitab suci. Penyakit ini, menurut pakar bahasa Ibnu Faris, adalah “segala sesuatu yang membuat manusia melampaui batas kewajaran, baik dalam bentuk kelebihan atau kekurangan.”
Baca juga: Tubuh yang Sehat, Jiwa yang Bersih: Islam dan Ilmu Kesehatan dari Dalam Wahyu
Penyakit hati akibat kelebihan, misalnya sombong, dendam, fanatisme buta, dan kerakusan. Sementara penyakit akibat kekurangan meliputi rasa takut yang berlebihan, cemas, rendah diri, hingga rasa tak berdaya menghadapi hidup.
Yang menarik, Al-Qur’an juga memberi perhatian pada penyakit akal. Ketidaktahuan bukan sekadar ketiadaan ilmu, tapi juga bisa menjadi bentuk penyakit berganda—seseorang yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Inilah akar dari keraguan dan kebimbangan, yang menyesatkan seseorang jauh sebelum ia menyadarinya.
Jawaban ini, yang tampak jenaka dalam tradisi hikmah, menyimpan kedalaman tafsir: bahwa keluhan fisik tak selalu bersumber dari fisik. Ia bisa saja lahir dari batin yang menderita. Sesuatu yang tak bisa disentuh jarum suntik atau ditakar dosis antibiotik.
Dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Prof. Dr. M. Quraish Shihab mengajak pembacanya menelusuri dimensi lain dari kesehatan—yakni kesehatan jiwa, qalbu, dan akal. Sebuah wilayah yang kerap tak dijangkau dunia medis modern, tapi menjadi pusat perhatian Al-Qur’an.
Menurut Al-Qur’an, manusia tak hanya bisa sakit tubuhnya, tetapi juga sakit hatinya. Frasa “fi qulubihim maradh” (dalam hati mereka ada penyakit) muncul tak kurang dari sebelas kali dalam kitab suci. Penyakit ini, menurut pakar bahasa Ibnu Faris, adalah “segala sesuatu yang membuat manusia melampaui batas kewajaran, baik dalam bentuk kelebihan atau kekurangan.”
Baca juga: Tubuh yang Sehat, Jiwa yang Bersih: Islam dan Ilmu Kesehatan dari Dalam Wahyu
Penyakit hati akibat kelebihan, misalnya sombong, dendam, fanatisme buta, dan kerakusan. Sementara penyakit akibat kekurangan meliputi rasa takut yang berlebihan, cemas, rendah diri, hingga rasa tak berdaya menghadapi hidup.
Yang menarik, Al-Qur’an juga memberi perhatian pada penyakit akal. Ketidaktahuan bukan sekadar ketiadaan ilmu, tapi juga bisa menjadi bentuk penyakit berganda—seseorang yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Inilah akar dari keraguan dan kebimbangan, yang menyesatkan seseorang jauh sebelum ia menyadarinya.