Kisah Abu Dzar Menuju Rabzah: Kebenaran dan Padang Pasir yang Sepi
Miftah yusufpati
Sabtu, 21 Juni 2025 - 05:45 WIB
Di mana aku akan mati dan akan dikubur oleh sekelompok orang Irak yang menuju Hijaz. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Hari itu, suara takbir menggema bukan dari medan jihad, melainkan dari seorang lelaki tua yang diasingkan karena terlalu jujur. Abu Dzar Al-Ghifari, sahabat Nabi yang terkenal zuhud dan lantang mengkritik ketidakadilan penguasa, menaiki untanya meninggalkan Madinah menuju Rabzah, sebuah padang sunyi yang bahkan tak menyambutnya dengan pohon pelindung.
“Di mana aku akan mati dan akan dikubur oleh sekelompok orang Irak yang menuju Hijaz,” begitu sabda Nabi Muhammad SAW kepada Abu Dzar bertahun-tahun sebelumnya. Sabda yang kini perlahan menjadi nyata. Kebenaran yang pernah dibisikkan kenabian, kini menjelma kenyataan getir: Abu Dzar memang akan wafat dalam keterasingan.
Baca juga: Abu Dzar A-Ghifari: Simbol Perlawanan Rakyat atas Kekuasaan yang Korup
Pengasingan atas Nama Kekuasaan
Khalifah Utsman bin Affan, menantu Rasul dan sahabat terdekat, memutuskan mengasingkan Abu Dzar. Bukan karena kekufuran atau makar. Tapi karena Abu Dzar tak henti-hentinya mengkritik kebijakan ekonomi pemerintahan, pembagian ghanimah yang timpang, gaya hidup mewah para elit Muslim, dan terutama Muawiyah bin Abu Sufyan, Gubernur Syam.
Dalam pandangan Abu Dzar, kekuasaan yang tak tunduk pada prinsip keadilan adalah kezhaliman. “Barang siapa menimbun harta emas dan perak, lalu tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka sampaikanlah kepadanya kabar siksa yang pedih,” kata Abu Dzar, mengutip ayat Al-Qur’an, langsung di depan istana kekuasaan.
“Di mana aku akan mati dan akan dikubur oleh sekelompok orang Irak yang menuju Hijaz,” begitu sabda Nabi Muhammad SAW kepada Abu Dzar bertahun-tahun sebelumnya. Sabda yang kini perlahan menjadi nyata. Kebenaran yang pernah dibisikkan kenabian, kini menjelma kenyataan getir: Abu Dzar memang akan wafat dalam keterasingan.
Baca juga: Abu Dzar A-Ghifari: Simbol Perlawanan Rakyat atas Kekuasaan yang Korup
Pengasingan atas Nama Kekuasaan
Khalifah Utsman bin Affan, menantu Rasul dan sahabat terdekat, memutuskan mengasingkan Abu Dzar. Bukan karena kekufuran atau makar. Tapi karena Abu Dzar tak henti-hentinya mengkritik kebijakan ekonomi pemerintahan, pembagian ghanimah yang timpang, gaya hidup mewah para elit Muslim, dan terutama Muawiyah bin Abu Sufyan, Gubernur Syam.
Dalam pandangan Abu Dzar, kekuasaan yang tak tunduk pada prinsip keadilan adalah kezhaliman. “Barang siapa menimbun harta emas dan perak, lalu tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka sampaikanlah kepadanya kabar siksa yang pedih,” kata Abu Dzar, mengutip ayat Al-Qur’an, langsung di depan istana kekuasaan.