home masjid

Syi’ah di Atas Mimbar, Salib di Gerbang: Senja Kekuasaan Daulah Fatimiyah

Sabtu, 21 Juni 2025 - 05:15 WIB
Meski Syiah Ismailiyah lenyap dari pusat kekuasaan, Fatimiyah meninggalkan satu peninggalan monumental: Al-Azhar. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Kaligrafi caci maki terhadap sahabat Nabi terpajang di dinding-dinding masjid Mesir. Ucapan laknat kepada Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan menjadi slogan resmi rezim. Setiap hakim harus memutus perkara atas nama Syiah Ismailiyah.

Para pegawai negara, dari pemungut pajak sampai pengawas pasar, harus bermazhab sama. Mesir, negeri Sunni berabad-abad, dipaksa menyesap doktrin kekuasaan dari garis keturunan yang mengklaim sebagai pewaris Ali bin Abi Thalib.

Itulah wajah Dinasti Fatimiyah pada abad ke-11 hingga ke-12, ketika paham Syiah Ismailiyah tak sekadar menjadi kepercayaan elite, tetapi menjadi hukum negara. Di bawah Khalifah Al-Hakim bi Amrillah, bahkan cacian terhadap para sahabat Nabi dicetak dan disablon di ruang publik seperti pasar, masjid, bahkan tembok-tembok jalan. Mesir bukan lagi pusat ilmu, melainkan arena pengkondisian mazhab dan penyusupan politik sektarian.

Namun, eksperimen ideologis ini ternyata menjadi pisau bermata dua. Dukungan rakyat Sunni menipis, dan kemarahan publik terpendam dalam bisu yang panjang. Ketika Al-Hakim akhirnya memerintahkan penghentian cacian dan memberi ancaman kepada pelakunya, semuanya sudah terlambat. Bibit kebencian sudah tumbuh, dan rakyat menanti saat pembalasan.

Baca juga: Kisah Ali bin Abi Thalib Menolak Membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah

Pemerintahan Boneka, Menteri Berkuasa

Seiring waktu, istana dinasti Fatimiyah di Kairo berubah menjadi istana kemewahan yang menjauh dari urusan rakyat. Para khalifah tak lagi memimpin; mereka menjadi simbol, ditarik ulur oleh menteri-menteri yang menguasai keputusan dan mengeksekusi kekuasaan. Khalifah Al-Adid, yang terakhir, nyaris tak lebih dari wayang istana.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya