home masjid

Al-‘Uzza: Dewa Perempuan yang Tewas di Tangan Khalid bin Walid

Senin, 23 Juni 2025 - 05:15 WIB
Kini, tempat itu hanyalah padang sunyi. IlustrasI Ist
LANGIT7.ID-Tihamah, masa lalu yang berdebu. Di tengah gurun yang kering dan musim yang tak kenal ampun, tiga batang pohon kurma berdiri menantang matahari. Tak ada yang istimewa bagi mata kita hari ini. Tapi dulu, batang-batang itu bukan sekadar pepohonan. Ia adalah perwujudan Tuhan bagi bangsa Arab. Namanya: al-‘Uzza.

Menurut al-Azraqi—sejarawan Makkah dari abad ke-3 Hijriah—Uzza adalah tiga batang pohon kurma berwarna coklat tua yang ditanam dan dikeramatkan di antara Thaif dan Nakhlah. Ia bukan hanya pohon. Ia adalah entitas, simbol ilahi, representasi ketuhanan bagi kaum Quraisy, Khuza’ah, hingga Mudhar.

Orang pertama yang menyeru penyembahannya, menurut riwayat, adalah Amr bin Rabi’ah dan al-Harits bin Ka’ab. Dengan retorika yang lihai, Amr menyatakan, “Sesungguhnya Rabb kalian menjelma menjadi Latta di musim panas karena dinginnya Thaif, dan menjadi Uzza di musim dingin karena panasnya Tihamah.”

Pernyataan itu mungkin terdengar seperti lelucon kosmologis hari ini. Tapi pada masanya, itu adalah fondasi iman. Berhala-berhala seperti Latta, Uzza, dan Manat bukan sekadar simbol spiritual, mereka adalah poros sosial, ekonomi, dan politik.

Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim: Melecehkan Berhala, Lalu Memenggal Kepalanya

Uzza menempati tempat istimewa. Setelah berhaji di Kakbah, orang-orang Quraisy tidak langsung menggunduli rambut mereka. Mereka justru menyinggahi Uzza. Mereka berthawaf di sekelilingnya. Mereka bertahalul di hadapannya. Satu hari penuh dikhususkan untuknya, sebagai bentuk penghormatan terakhir sebelum pulang. Ia bukan hanya sesembahan, ia adalah spiritual pit stop—transit akhir setelah bertemu Allah di Ka’bah.

Setan di Balik Pohon Kurma
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya