LANGIT7.ID-Tihamah, masa lalu yang berdebu. Di tengah gurun yang kering dan musim yang tak kenal ampun, tiga batang pohon kurma berdiri menantang matahari. Tak ada yang istimewa bagi mata kita hari ini. Tapi dulu, batang-batang itu bukan sekadar pepohonan. Ia adalah perwujudan Tuhan bagi bangsa Arab. Namanya:
al-‘Uzza.
Menurut al-Azraqi—sejarawan
Makkah dari abad ke-3 Hijriah—Uzza adalah tiga batang pohon kurma berwarna coklat tua yang ditanam dan dikeramatkan di antara Thaif dan Nakhlah. Ia bukan hanya pohon. Ia adalah entitas, simbol ilahi, representasi ketuhanan bagi kaum Quraisy, Khuza’ah, hingga Mudhar.
Orang pertama yang menyeru penyembahannya, menurut riwayat, adalah Amr bin Rabi’ah dan al-Harits bin Ka’ab. Dengan retorika yang lihai, Amr menyatakan, “Sesungguhnya Rabb kalian menjelma menjadi Latta di musim panas karena dinginnya Thaif, dan menjadi Uzza di musim dingin karena panasnya Tihamah.”
Pernyataan itu mungkin terdengar seperti lelucon kosmologis hari ini. Tapi pada masanya, itu adalah fondasi iman. Berhala-berhala seperti
Latta, Uzza, dan Manat bukan sekadar simbol spiritual, mereka adalah poros sosial, ekonomi, dan politik.
Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim: Melecehkan Berhala, Lalu Memenggal Kepalanya Uzza menempati tempat istimewa. Setelah berhaji di Kakbah, orang-orang Quraisy tidak langsung menggunduli rambut mereka. Mereka justru menyinggahi Uzza. Mereka berthawaf di sekelilingnya. Mereka bertahalul di hadapannya. Satu hari penuh dikhususkan untuknya, sebagai bentuk penghormatan terakhir sebelum pulang. Ia bukan hanya sesembahan, ia adalah spiritual pit stop—transit akhir setelah bertemu Allah di Ka’bah.
Setan di Balik Pohon KurmaDalam tafsir-tafsir keagamaan yang dikumpulkan oleh Abu Bakar Zakaria dalam buku
Sang Pionir Kesyirikan, disebutkan bahwa sesungguhnya di balik berhala-berhala itu ada setan yang disembah. Ritual-ritual pagan bukan sekadar penyimpangan teologis, tapi juga pengukuhan jaringan iblis yang membentang di padang pasir Arab.
Ketika cahaya kenabian muncul di Makkah dan Islam mulai membersihkan pusat akidah dari syirik, Rasulullah memerintahkan Khalid bin Walid untuk meruntuhkan simbol-simbol penyekutuan itu. Ia mengutusnya ke Nakhlah. Khalid membawa pedangnya dan menghantam Uzza. Tidak sekali. Tiga kali.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, Uzza tidak hanya ditebang secara fisik, tapi juga secara spiritual. Dikisahkan, ketika Khalid memukulnya pertama kali, tidak terjadi apa-apa. Tapi pada pukulan ketiga, keluarlah seorang perempuan hitam, telanjang, meronta dalam jeritan. Khalid memenggalnya.
Lalu ia kembali kepada Rasulullah. “Apakah engkau telah menghancurkannya?” tanya Nabi. “Sudah,” jawab Khalid. “Engkau belum,” kata Nabi. Maka Khalid kembali, dan membabatnya hingga tuntas. Setelah itu, Nabi bersabda, "Itulah Uzza, dan ia tidak akan disembah lagi setelah hari ini."
Baca juga: Raja Duramsyil: Orang Pertama yang Memproduksi Anggur, Musuh Nabi Nuh Penyembah 5 Berhala Al-‘Uzza, dewa yang dulu dikitari dengan penuh pengagungan, menjadi simbol kematian kepercayaan lama. Ia adalah dewi palsu yang jatuh di tangan keimanan tauhid. Bersama Manat dan Latta, ia membentuk triad berhala wanita yang disinggung bahkan dalam Al-Qur’an: *“Apa pendapatmu tentang Latta dan Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terakhir?”* (QS An-Najm: 19–20)
Satu demi satu dewa-dewa Arab jatuh. Tapi mereka tidak sekadar mati. Mereka dihapuskan dengan narasi, dengan sejarah, dengan iman. Dan Khalid bin Walid, sang Panglima Pedang Allah, menggoreskan garis keras antara iman dan kekafiran, antara syirik dan tauhid.
(mif)