Rusia: Gencatan Senjata Saja Tak Cukup, Kesepakatan Nuklir Iran Sulit Dihidupkan
Nabil
Selasa, 24 Juni 2025 - 14:45 WIB
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menghadiri pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di kediaman negara Novo-Ogaryovo, di pinggiran Moskow, Rusia. Dok: Istimewa
LANGIT7.ID–Jakarta;Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, mengaku pesimis soal peluang menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran yang disepakati tahun 2015 lalu. Hal ini ia sampaikan dalam wawancara dengan media Rusia, Izvestia, yang dirilis Selasa.
Komentar Ryabkov muncul sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel, setelah lebih dari sepekan kedua negara saling melancarkan serangan udara.
Wawancara ini dilakukan tak lama setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, dan mengklaim telah "menghancurkan total" situs-situs pengayaan uranium utama milik Iran.
"Aku tidak melihat adanya kondisi yang memungkinkan untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu saat ini," kata Ryabkov, mengacu pada kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang ditandatangani tahun 2015.
"Tapi itu bukan berarti kita meninggalkan jalur diplomasi. Justru sebaliknya. Sekarang saatnya kita menggandakan upaya untuk mencapai kesepakatan yang bisa membantu menstabilkan situasi."
Ryabkov juga bilang bahwa Rusia memahami posisi dan alasan Iran. "Dan tentu saja, semua ini butuh syarat utama: serangan harus dihentikan. Tidak boleh ada eskalasi lanjutan dari pihak lain," katanya. "Kalau ini dipenuhi, barulah pihak Iran bisa mempertimbangkan opsi-opsi politik dan diplomatik mereka."
Rusia sendiri sudah mengecam keras serangan Israel terhadap target-target Iran. Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan menyebut serangan Amerika ke situs nuklir Iran sebagai tindakan “tak berdasar” yang bisa menyeret dunia ke arah krisis besar.
Komentar Ryabkov muncul sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel, setelah lebih dari sepekan kedua negara saling melancarkan serangan udara.
Wawancara ini dilakukan tak lama setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, dan mengklaim telah "menghancurkan total" situs-situs pengayaan uranium utama milik Iran.
"Aku tidak melihat adanya kondisi yang memungkinkan untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu saat ini," kata Ryabkov, mengacu pada kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang ditandatangani tahun 2015.
"Tapi itu bukan berarti kita meninggalkan jalur diplomasi. Justru sebaliknya. Sekarang saatnya kita menggandakan upaya untuk mencapai kesepakatan yang bisa membantu menstabilkan situasi."
Ryabkov juga bilang bahwa Rusia memahami posisi dan alasan Iran. "Dan tentu saja, semua ini butuh syarat utama: serangan harus dihentikan. Tidak boleh ada eskalasi lanjutan dari pihak lain," katanya. "Kalau ini dipenuhi, barulah pihak Iran bisa mempertimbangkan opsi-opsi politik dan diplomatik mereka."
Rusia sendiri sudah mengecam keras serangan Israel terhadap target-target Iran. Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan menyebut serangan Amerika ke situs nuklir Iran sebagai tindakan “tak berdasar” yang bisa menyeret dunia ke arah krisis besar.