Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Harga Seorang Raja
Miftah yusufpati
Rabu, 25 Juni 2025 - 04:15 WIB
Apa guna mahkota emas, jika isinya hanya kepala yang dipenuhi debu kesombongan? Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Pada suatu siang yang teduh di tengah gurun kekuasaan dan ambisi, Timur Lenk kembali mengajak Nasrudin Hoja berdiskusi soal dirinya—topik favorit sang penakluk dunia itu.
"Nasrudin!" seru Timur sambil membusungkan dada. "Kalau setiap benda di dunia ini ada harganya, menurutmu... berapakah hargaku?"
Tanpa menoleh, Nasrudin menjawab santai, seperti menjawab harga seekor ayam di pasar. "Saya taksir, sekitar seratus dinar saja."
Timur Lenk langsung tersentak. Nadanya meninggi, seperti kuda perangnya yang kaget disodok tombak.
"Keterlaluan kau ini! Apa kau tahu bahwa ikat pinggangku saja harganya sudah seratus dinar?"
Baca juga: Timur Lenk dan Raja-Raja di Surga: Humor Sufi ala Nasrudin Hoja
Nasrudin menoleh dan mengangguk kalem. "Tepat sekali, Paduka. Memang yang saya nilai dari Anda hanya sebatas ikat pinggang itu saja."
"Nasrudin!" seru Timur sambil membusungkan dada. "Kalau setiap benda di dunia ini ada harganya, menurutmu... berapakah hargaku?"
Tanpa menoleh, Nasrudin menjawab santai, seperti menjawab harga seekor ayam di pasar. "Saya taksir, sekitar seratus dinar saja."
Timur Lenk langsung tersentak. Nadanya meninggi, seperti kuda perangnya yang kaget disodok tombak.
"Keterlaluan kau ini! Apa kau tahu bahwa ikat pinggangku saja harganya sudah seratus dinar?"
Baca juga: Timur Lenk dan Raja-Raja di Surga: Humor Sufi ala Nasrudin Hoja
Nasrudin menoleh dan mengangguk kalem. "Tepat sekali, Paduka. Memang yang saya nilai dari Anda hanya sebatas ikat pinggang itu saja."